Sang Pencari Tuhan

Langit tampak cerah. Udara panas mulai nampak terasa. Sengatan panasnya matahari makin lama makin panas. Terlihat banyak orang yang lalu-lalang di depan gerbang kampus itu. Salah satu perguruan tinggi Islam ternama di Makassar.
Di sana-sini nampak wajah-wajah lugu nan polos. Seakan mereka bingung dengan suasana alam yang baru bagi mereka. Maklumlah baru pada tahap transisi. Dari dunia pelajar melangkah ke dunia mahasiswa. Sangat berbeda. Begitu kompleks. Di alam mahasiswalah mereka ditempa menjadi seorang yang harus mengedepankan logika tanpa mengesampingkan agama. Intelektualitas ditonjolkan dibanding hedonisme.
Masyarakat kampus yang begitu kompleks membuat Agus kebingungan. Tak tau arah. Ke mana kakak seniornya memanggil, ke sana ia melangkah. Apa yang diperintahkan, itu pula yang dilakukan. Sungguh penurut. Padahal semasa sekolah, dia adalah jawara sekolah. Preman yang ditakuti dan disegani sesamanya siswa. Selain kuat dan nakal, dia juga cerdas dan pintar. Dia juga seorang mantan santri. Dia masuk pesantren saat tamat sekolah dasar. Namun Cuma tiga tahun. Sempat tamat madrasah Tsanawiyah. Lalu melanjutkan ke sekolah umum.
Agus semasa di madrasah, dia hafal hadits ARBAIN separuh. Dia mendownload filenya di internet. Maklum dia anak orang kaya. Dia kuasai komputer. Bisa didownload filenya di sini.
Pagi itu, Agus dengan sikap lugunya bertekad ingin bermanfaat bagi sesamanya. Terlepas caranya nanti seperti apa. Yang jelasnya dia tidak mau menjadi mahasiswa penganut hedonisme. Harus menjadi mahasiswa akademis organisatoris. Walau rada-rada sulit dicapai. Tapi itulah kesimpulannya. Dari sekian banyak cerita dari seniornya. Akhirnya berkesimpulan untuk menjadi akademis dan sekaligus aktif organisasi.
“Dek… kamu itu jangan Cuma kuliah saja kamu kerja. Nanti kamu jadi mahasiswa 3K”. jelas salah satu seniornya.
“Apa itu kak?”.
“Kost, Kampus, Kampung. Na kalau kamu begitu apa yang akan kamu dapat. Pengetahuan itu didapatkan tujuh puluh lima persen di luar kampus. Hanya dua puluh lima persen yang kamu dapat dari kuliah. Coba kamu pikir! Dosen Cuma masuk duduk lalu ceramah dan memberi tugas. Sudah itu keluar. Selesai…! Untung kalau ada yang tinggal di otakmu. Iya kan? Makanya ikut organisasi dong. Kajian bersama teman-teman. Kan enak. Ikut saja pada organisasiku. Pokoknya kita kajian”.
Seniornya panjang lebar menstimulus dan ujung-ujungnya mengajak ikut pada golongannya. Senior itu berhasi meramu pikirannya. Agus tertarik. Lalu dia pun ikut dikader. Perdebatan sengit antara pemateri dan peserta yang semuanya mahasiswa baru berlangsung heboh.
Dalam kajian itu mereka mencari kebenaran dari agama yang mereka anut. Pemateri berperan sebagai orang kristen mempertahankan dan memaki-maki Islam habis-habisan. Dialog itu seputar kebenaran tirmitas dalam dogam umat kristiani.
Mendengar hal itu, semua peserta membantah dengan segala argumentasinya. Agus pun tak mau kalah. Sebagai umat Islam, dia tak rela agamanya dianggap sesat. Dia pun mengambil referensi dari yang pernah dibacanya. Baca di sini
Pemateri itu sempat terkagum-kagum dengan segala argumentasi Agus yang dikeluarkan. Tapi pemateri pun tak mau kalah. Dia selalu membawa lari dari masalah jika argumentasinya terbantahkan. Biasa… senior tak mau kalah. Malu..
Mulai malam itulah, Agus ditambah penasaran oleh materi-materi yang mengandalkan argumentasi yang logis. Dia mulai menjajaki segala ruang untuk mencari referensi untuk memperkuat argumentasinya. Memperbanyak dan memperluas wawasan berfikir(***)
READ MORE - Sang Pencari Tuhan

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Hanya Mimpi yang Ku Mampu

“Cara aku merasakan segalanya adalah dengan bermimpi”. Ungkapan itu ditulisnya besar-besar di dinding gubuknya. Itulah cara Ahmad menjalani hidupnya tiap hari. Tukang sampah yang angan-angannya selalu mengawan. Dia selalu menikmati hidupnya dengan bermimpi. Lelaki yang telah menjalani hidup dua puluh lima tahunan itu tak pernah batinnya menderita. Dia selalu merasakan apa yang mungkin dirasakan orang yang mapan secara ekonomi. Bahkan lebih dari mereka.
“Andai bermimpi harus dibatasi. Maka mungkin akulah orang yang pertama mengangkat tangan dan mengusung dada untuk melawan kebijakan itu. Siapaun itu, termasuk Tuhan. Akan aku lawan jika dia melarang aku tuk bermimpi”. Begitu batinnya berbisik.
Ahmad yang kesehariannya menjajaki tumpukan sampah, tak pernah batinnya tersiksa dengan kehidupannya yang jauh dari layak itu. Dia lelaki tegar menjalani hidup yang sangat kejam ini. Tak salah jika dia menyebutnya hidup ini sebagai pilihan.
Menurutnya hidup itu terlalu indah. Tak kalah indah dengan surga yang kenikmatannya tak terbayangkan. Hidup itu hanyalah kepiawaian memilih. Jika manusia memilih hidupnya sensara, maka itulah yang dijalani. Namun jika hidup itu dipandang sebagai taman surga, maka itulah yang dirasakan. Manusia hanya dituntut untuk melawan penderitaan. Perasaan tidak puas. Dan segala penyakit hati yang terlalu banyak manusia menjadi korban.
Hidup itu indah. Hidup mudah. Hanya saja menjalani hidup itu terkadang pahit. Mempertahankan hidup terkadang susah. Namun di situ manusia ditantang Tuhan. Karena hidup tak kan pernah dirasakan indah tanpa tantangan. Tak ada mudah tanpa kesusahan. Manusia dituntut mana yang mampu dirasakan.
Ahmad terus saja merenungi kehidupannya. Hidup orang lain. dan terkadang menertawakan dirinya sendiri. Juga terkadang heran dengan orang yang hidup serba berkecukupan namun mengeluh belum bahagia. Belum merasakan indahnya hidup. Dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang tukan sampah namun selalu merasakan keindahan hidup dan kebahagiaan.
Bagi Ahmad cukup ada yang dimakan untuk menyambung hidup. Soal kemewahan itu hanyalah sesaat. Mencari kemewahan yang terlalu hanya membuat batun tersiksa. Terlalu sibuk dengan urusan keduniaan. Ahmad takut jangna sampai urusan dunia membuatnya ingkar pada Tuhan-Nya.
Seringkali Ahmad heran dengan pejabat yang kerjanya Cuma numpukin harta. Ngorup uang rakyat. Yang gencar mengkampanyekan kebenaran. Anti korupsi. Perjudian. Narkoba dan sikap asusila lainnya. Malah mereka yang melakukannya.
“Benar-benar negeri ini negeri aneh. Republik gila. Lebih baik aku bermimpi saja untuk mendapat seluruh kebahagiaan yang dicari semua orang. Untung aku masih dapat bermimpi. Kalau tidak, maka mungkin akulah orang yang paling menderita. Karena tanpa harta dan tanpa pendidikan. Tak ada bekal sama sekali…….”(***)
READ MORE - Hanya Mimpi yang Ku Mampu

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Andai Kau Tau...

Andai Kau Tau

“Ical… Andai kau tau apa yang kualami saat ini, pastilah kamu merasakan betapa menderitanya batin ini… namun kau tak pernah merasakan apa yang kuderita. Getaran cintaku tak pernah kau rasakan. Kau tak pernah mengerti nasib diriku yang kian layu. Bunga hidupku tak pernah mekar lagi karena siraman air mata kasih sayangmu tak pernah kau curahkan. Mengapa kau memperlakukanku seperti itu?? Mengapa…??”.
Penderitaan Inha hanya mampu dituliskannya pada beberapa helai kertas. Kertas yang selalu setia menemaninya saat senang dan susah. Tak pernah lelah dalam melayani majikannya. Selalu merasakan apa yang majikannya sedang alami.
Di atas buku hariannya, Inha tak bosannya mengadu dan berbagi. Seakan hanya itu miliknya. Yang lain telah membencinya. Tak ada lagi cinta dari yang lain. uluran tangan pun tak pernah muncul. Entah kemana semua.
Di sudut kamarnya Inha merenungi nasib hidupnya. Seakan hidupnya adalah neraka. Sangat menderita. Perasaan seorang perempuan yang selembut sutra itu tak mampu menahan goresan. Cinta yang ditaburkan pada seorang lelaki tak mendapat respon yang diharapkannya. Sungguh menderita.
Kini, tinggal kesepian yang menyelimuti dirinya. Buku harian menjadi teman curhatnya. Karena hanya itu yang dianggapnya baik hati. Cucuran air mata membasahi pelupuk matanya. Seakan air bah yang keluar dari mata air bencana. Bagai air yang sedang meluap. Mengalir deras. Sampai-sampai kapal Nabi Nuh pun tenggelam. Titanic roboh oleh luapan air mata kesedihan.
Andai saja Inha bukan orang beragama. Kecerdasan spiritualnya tidak ada. Maka dia akan mati terbunuh penderitaan. Bunuh diri. Dan paling tidak akan mengalami gangguang kejiwaan.
“Ah… hidup ini sungguh kejam. Aku harus bisa melawannya. Tak peduli dengan siapapun. Kutak mau lagi mengenal cinta kepada lelaki. Mereka kejam. Sungguh kejam”.
Dilanjutkannya tulisan itu. Tetesan air mata itu terus saja mengalir deras membasahi pipinya. Kertas diarinya hampir tenggelam oleh air mata.
* * *
Pagi itu dia bangkit dari tidurnya. Jam dinding kamarnya masih menunjuk pukul 04.03. dia segera bergegas ke kamar kecil. Dibersihkannya segala kotoran yang masih menempel di wajahnya. Dia mengambil air wudhu. Entah dia shalat apa. Tapi subuh itu dia shalat dua rakaat. Lalu usai shalat, dia lalu mengangkat kedua tangannya. Sembari berdoa. Dalam doanya dia meminta untuk dilapangkan dadanya untuk menghadapi segala cobaan.
Hidup ini terlalu kejam. Sehingga orang lemah menjadi tersisihkan. Mereka akan binasa oleh seleksi alam. Hanya orang-orang yang kuat dan tegarlah yang mampu bertahan hidup. Bagai makhluk lain pun begitu.
Usai shalat subuh, dia meraih kembali buku harinnya. Ditulisnya di halaman paling depannya; AKU HARUS KUAT. AKU TAK MAU MENGENAL CINTA KEPADA LELAKI LAGI SEBELUM AKU MENIKAH. AWAS KAMU MAKHLUK YANG BERNAMA LAKI-LAKI….(***)



Download Buku-Buku Islam & Komputer. Mudah-mudahan Menambah Kahzanah Keilmuan

Mari Belajar Islam; Pahami Islam Lebih dalam
Titik Temu Islam-Kristen
Dialog Seputar Trinitas
The Choice; Islam & Kristen
The Passion of Jesus
Hadis Arbain
Juga Buku-buku Yusuf Qardhawy di sini


Mari Belajar Komputer; Menjadi Desainer yang Tangguh
SES Pemrograman Web dengan HTML CSS dan JavaScript
Aplikasi Periklanan Menggunakan CorelDRAW X3 CD
101 Tip Trik Visual Basic6.0 Buku Kedua
101 Tip Trik ArchiCAD 9 dan 10
READ MORE - Andai Kau Tau...

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Surat Itu, di Hari Valentine

Semoga cinta dan kasih sayangmu pada siapapun selalu bertambah seiring dengan bertambahnya usia.

Dan kebencian dan pikiran negatifmu selalu berkurang seiring dengan berkurangnya jatah hidup di dunia ini. Semoga....!!

Seminggu yang lalu, Indah menyepakati pura-pura putus dengan pacarnya, Rafli. Merekapun menyepakati akan kembali terus terang pada waktunya yang tak di tentukan. Sampai pada masa aman. Mereka berbuat seperti itu karena Indah takut pada laki-laki yang selalu mengejarnya. Ke manapun dia berada.

Indah diancam jika tak mau padanya. Tak mau menerima cintanya. Lelaki itu bernama Arif. Lelaki yang cinta mati pada Indah. Indah akhirnya terpaksa menerima Arif lantaran takutnya. Sementara Rafli tau hal itu. Dia tak mau ribut hanya gara-gara seorang perempuan. Akhirnya merekapun sepakat untuk pura-pura tak ada hubungan spesial lagi.

Sangat sulit Indah mencintai dengan terpaksa. Dia telah menemukan cinta sejatinya, Rafli. Tapi kini mereka mendapat tantangan. Walau sudah sekian kali mendapat tantangan. Dia tak dapat bayangkan jikalau dia harus berpisah dengan Rafli. Dia belum mampu.

Tanggal 14 Februari telah tiba. Indah menikmati malam itu. Malam kasih sayang, orang bilang. Atau lebih dikenal dengan sebutan valentines day. Entah apa gerangan megapa orang sangat menspesialkanny malam itu. Beragam macam dilakukan orang untuk merayakannya. Mulai dari mabuk hingga kirim-kiriman SMS selamat.

Malam itu, bertepata dengan hari kasih sayang. Rafli dengan tangannya sendiri memberikan kertas itu pada Indah. Sepucuk surat terakhir. Pertanda pura-pura menjadi sungguh-sungguh. Entah apa gerangan Rafli sudah memutuskan hubungannya dengan Indah. Tapi semua itu terjawab dari lembaran suratnya.

Orang lain menyambut malam itu dengan mesra-mesraan. Tapi Indah lain. Dia menjalani malam itu dengan memutuskan cinta yang telah lama terjalin. Walau dia pun juga bersama pacar barunya. Tapi itu tak dirasakan Indah.

Dibukanya. Lalu dibaca perlahan………….

Sebelum dibaca senyumlah tiga kali, kemudian bacalah ‘BASMALAH’

Benang Merah Dunia Kita

Hadirnya coretan ini bukan dengan maksud mengecewakan dan membuat kamu simpati lagi terhadapku. Apa lagi dengan maksud ingin menghancurkan hubungan kamu dengan dia. Tulisan ini hanya semata-mata untuk kamu ketahui isi hatiku yang sebenarnya. Sehingga semua jelas tanpa adanya lagi tanda tanya dalam dirimu yang membuatmu gelisah.

Janganlah pandang coretan ini sebagai sesuatu yang menyedihkan. Tapi lihatlah sebagai kabar gembira yang datang dari seseorang yang tak pernah memperhatikanmu. Sebelum terlalu jauh, terlebih aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Sebab hanya engkau yang pernah aku kenal sebagai gadis yang baik tak pernah banyak menuntut. Walaupun menuntut tapi tak terucap. Engkaulah yang pernah membuat hatiku bahagia. Walaupun juga sedih dan kecewa.

Terima kasih atas semua curahan cinta dan kasih sayangmu selama ini. Walaupun aku tak pernah memperhatikanmu, kamu selalu memperhatikanku. Aku selalu cuek ditengah perhatianmu.

Mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala sifat dan tingkah laku yang tak pernah sejalan dengan kemauanmu. Aku sadari… aku punya sejuta salah. Andai dosaku dapat terlihat, pastilah dunia penuh dengan kegelapan disebabkan dosa-dosaku terhadapmu. Kumohon kiranya engkau dapat memaafkanku. Aku tidak sanggup memikul dosaku. Tuhan pastilah murka terhadapku jika engkau tak memaafkanku. Namun aku yakin kamu telah memaafkanku. Karena kamu adalah orang yang paling pemaaf dan paling baik yang pernah aku kenal. Semoga…!!!

Harga diri sebagai manusia ada pada kehormatan. Cara bergaul dan kemampuan menjaga kesucian diri dari segala hal yang kotor sebagai tolak ukur kehormatan setiap orang. Harga diri dinilai dari kehormatan seseorang. Hati-hatilah dalam bergaul. Lingkungan adalah salah satu faktor pemicu dan pendukung baik tidaknya pergaulan seseorang.

12 februari lalu kuanggap itulah awal dari masalah ini. Kamu sengaja cari-cari masalah. Aku tau saat itu kau bosan dengan aku. Dengan dalih ulang tahun itu adalah hari istimewa buatmu. Tapi entah kenapa, kamu tidak menganggap ulang tahun orang lain itu tidak istimewa? 27 September yang lalu adalah hari kehadiranku dimuka bumi. Namun aku tidak mempersoalkan itu. Entah kamu tau atau tidak, yang jelas kamu hanya cari masalah. Maka hari inilah kita akhiri semua sandiwara kita.

4 maret yang lalu kita sepakat. Tapi entah apa dan kenapa aku merasa tidak enak dengan kamu. Entah kamu terlalu bahagia dengan dia, sehingga ruang bagiku hilang sirna dihatimu. Tak secuilpun aku ada dihatimu. Bersih sudah aku ini dalam dirimu. Aku yakin, malam itu kamu merasa bangga memenangkan permainan. Berhasil menghimpun secara bersamaan. Kamu memang wanita perkasa.

Melalui coretan ini, ingin kuucapkan kata terakhirku untukmu. Pesan yang menjadi harapanku untukmu. Kutak mau kita hidup dalam ketidak jelasan. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Aku ingin kau jauh dalam hatiku.

Walau engkau berat kubuang dalam bayang-bayang hidupku. Namun kulihat itulah yang terbaik untukmu. Aku tak ingin membatasi ruang hidupmu. Terbanglah sesuka hatimu. Namun jangan pernah kau lupa etika hidup dalam bergaul. Adab dalam bermasyarakat jangan pernah kau kesampingkan. Akhlak dalam beragama jangan pernah kau buang. Pacaran hukumnya boleh, selama masih sanggup menahan dari godaan hawa nafsu. Berkhalwat (berdua-duan di tempat sepi) sudah bukan hal yang tabu. Namun perlu disadari godaan tak pernah kita tau. Iman tak selamanya kuat.(***)


Hilangkan cintaku dalam hatimu, namun kasihku jangan pernah kau buang.

Lupakanlah aku, namun jangan pernah membenciku.

Jangan pernah hadirkan dalam hatimu kebencian terhadap sesuatupun. Sebab kebencian hanya membuatmu menderita………

Jalinan cinta dan kasih yang dibungkus dengan bingkai pacaran hanya sebagian kecil dari cinta dan kasih yang sesungguhnya. Dan itu ditemukan dalam pergaulan sehari-hari. Gerakannya lambat tapi pasti.


Sekedar Renungan…

Ketahuilah ….. Cinta sejati tak kan pernah ada dimuka bumi ini. Sebab tak ada cinta tanpa syarat. Cinta penuh dengan sejuta syarat.


Cinta walaupun… Bukan cinta karena……. Itulah cinta sesungguhnya.


Belajarlah mencintai dengan hati dan pikiran. Jangan pernah mencintai karena dendam dan hawa nafsu.


Pandanglah segala sesuatu dengan penuh kebahagiaan. Jangan tunda kebahagiaanmu sampai hari esok. Janganlah terjebak prisip; “berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Lalu kapan bahagianya. Harus nunggu besok. Esok belum tentu hidup….


Senyumlah sepuasmu setelah engaku baca coretan terakhirku untukmu. Aku tau inilah yang kau tunggu.

Dibaca. Dihayati kata per kata. Kalimat per kalimat. Dari matanya beralih ke pikiran lalu masuk ke dalam hati. Di sanalah bersemayam dan bersenandung kata-kata itu.

Setelah dibacanya. Indah dengan mata sayup tanpa sinar menggulung kertas itu. Lalu tanpa sadar butiran air mata menetes. Hatinya seakan layu. Debaran jantung semakin keras. Pikiran tak terarah. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Pandangannya sayup-sayup. Alam sekitarnya mulia gelap. Sampai dirinya dilihatnya pada sebuah padang luas tak bertepi.

Di padang itulah dia bertemu dengan segala pelajaran hidup. Hikmah hidup telah ditemukannya. Cinta tak selamanya memiliki. Tak seterusnya bersama. Namun kebahagiaan akan selalu hadir tanpa orang yang dicintai. Dia menemukan suatu pesan dan prinsip hidup. Seakan padang sekelilingnya berkata, janganlah kamu GANTUNGKAN KEBAHAGIAANMU PADA APA DAN SIAPAPUN niscaya kamu akan selalu hidup dalam kebahagiaan.

Indah pun kembali dari tidur lelapnya. Dengan mata terperangah, memandang orang-orang di sekelilingnya….(***)

READ MORE - Surat Itu, di Hari Valentine

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Malam Transaksi Pacar

Malam Transaksi Pacar

“Sayang ada telponta, dari itutu…” Bunyi dering ponsel Ahmad membuat orang di sekitarnya kaget. Saat itu dia sementara kuliah. Untunglah dosen baik hati. Tidak galak lagi. Beda dengan waktu sebelumnya, bunyi sedikit marah.

Dilihatnya layar ponselnya, tertulis nama Maryam, pacarnya, yang sedang memanggil. Segera Ahmad menjawab panggilan itu. Diangkatnya. Lalu keluar dari ruang kuliahnya.

“Hallo,Assalamu Alaikum…”

Di seberang sana terdengar jawaban salamnya. Yang menelpon suara laki-laki. Tidak biasanya Maryam meminjamkan Ponselnya pada laki-laki lain. Ahmad merasa curiga. Kecurigaan itu bertambah tatkala suara itu menyebutkan namanya. Ternyata yang menelpon adalah Ical. Laki-laki pengagum Maryam sejak SMA. Ical sudah lama memendam hati. Namun dia masih sungkam mengungkapkannya. Karena dia tidak mau menghianati temannya sendiri, Ahmad.

Itu dulu. Tapi Sekarang Ical sudah tak sanggup lagi memendam cintanya. Apalagi kini Maryam sudah dekat dengan Ical. Mereka berdekatan. Ical tinggal dekat Kampus Maryam. Jadi mereka sering bertemu.

Sebenarnya Ical sudah lama terus terang pada Ahmad. Ahmad juga tak pernah menghalanginya untuk mendapatkan cintanya Maryam. Namun Maryam sendiri yang memang tak mencintai Ical.

Sekarangpun belum jelas bagi Ahmad, apakah betul Maryam beralih hati pada Ical. Tapi kayaknya memang iya. Setelah Ical menelpon tadi, yang katanya ingin ketemuan secepatnya di kost salah seorang temannya. Itu menjadi pertanda bagi Ahmad. Tapi itu belum jelas.

Jarum Jam sudah beralih. Kini sudah menunjuk angka tiga. Itu artinya pelajaran usai sudah. Ahmad segera keluar dai ruangannya. Berangkat cepat ke tempat yang dijanjikan bertemu Ical. Ahmad mengira Maryam juga ada di sana. Tapi salah prediksi. Sesampai di sana, banyak teman-teman Ahmad. Dia bertemu Ical. Bertanya apa maksud Ical memanggilnya kemari. Namun itu tak dijawab dengan benar. Hanya dijawab Cuma rindu. Hampir tak ada obrolan yang bermanfaat.

“Apa ya kira-kira yang hendak diomongin Ical kepadaku… apa mungkin tentang Maryam!??”, kata Ahmad dalam hati, penasaran.

Dalam tengah penasaran Ahmad. Ical tiba-tiba memanggil ingin berangkat. Ahmad dan Dani segera memenuhi panggila Ical. Merekasegera pamit berangkat. Mereka berboncengan tiga menuju kost Ahmad. Di sana mereka masak, lalu makan bersama.

Nasi mulai nanak. Ponsel Ahmad berbunyi lagi. Dilihatnya yang menelpon adalah Ida, teman kampusnya Maryam. Di balik ponsel menyahut.

“Hallo… dengan Kak Ahmad?”.

Ahmad mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Lalu menjawab.

“Iya… Aku. Kenapa? Ini dengan siapa ya?”.

“Aku kak… Maryam. Sudah lupa ya sama aku”.

“Tidak sayang… Tak mungkin aku lupa. Habis suaramu aja yang tambah merdu. Sampai-sampai aku tak mengenali lagi suaramu”, jawab Ahmad dengan nada gombal.

“Ah kakak bisa aja… kakak sih tak pernah nelpon aku lagi”.

“Kenapa..? kamu rindu ya sama aku? Ayo ngaku…”

“Sebenarnya sih iya kak. Habis cuma sekali sebulan nelponnya. Ketemu juga tidak”.

Mata da raut muka Ical mulai berubah saat mendengar suara Maryam di telpon. Yang mesra dengan Ahmad.

Tiba-tiba Ahmad mengalihkan pembicaraan.

“Kamu bisa ke rumah tidak? Soalnya bayak teman-teman kita di sini. Teman SMA…”.

“Betul..?? Siapa-siapa?”.

Ada Dani… Ical juga ada. Pengagummu dulu sampai sekarang”, tutur Ahmad sambil ketawa kecil.

Karena Maryam merasa diejek, dia langsung mematikan ponselnya. Dihubunginya kembali sudah tidak aktif. Dia mungkin benar-benar tersinggung. Karena seminggu terakhir Maryam dengan Ical sudah jadian. Maryam menerima cintanya Ical walau dia hanya terpaksa. Takut karena diancam. Juga karena pertimbangan Ahmad tidak lagi memperhatikannya.

Mereka menikmati masakan bertiga. Usai makan, Dani mengajak Ical dan Ahmad jalan-jalan ke sekolah waktu SMA-nya dulu.

Langit mulai mendung. Awan-awan sudah mengepul dengan genitnya. Butiran hujan sudah mulai turun satu persatu. Sesampai mereka ke sekolah, air pun tumpah dari langit. Dani dan Ahmad pergi berteduh di rumah gurunya. Sedangkan Ical ditinggal di sudut sekolah. Dia dipanggil ikut. Tapi tak mau.

Di belakang Dani dan Ahmad, Ical menelpon Maryam. Ical bilang kalau dia mau dikeroyok oleh Dani dan Ahmad. Dengan keadaan hujan. Maryam bersama adik laki-lakinya menuju ke sekolah. Sesampai Maryam ke sekolah, Dani dan Ahmad pun baru keluar dari rumah pak guru. Mereka menuju ke tempat di mana Ical berada.

Ahmad kaget mengapa ada adik laki-lakinya Maryam. Ahmad dan Dani hanya memandang ke arahnya. Lalu Ical mengajak Ahmad dan Dani pulang. Sembari dia naik ke motor adik Maryam. Ahmad dan Dani pun ikut menancap motornya.

Di gerbang sekolah, Maryam menunggu. Lalu Ahmad dengan santainya menegur Maryam.

“Kenapa kamu juga ada di sini?”.

Maryam dengan wajah geram memandang tanpa ada jawaban. Lalu mereka menuju ke rumah Maryam. Maryam dan Ical beserta adiknya dalam satu motor. Sedangkan Ahmad dan Dani berboncengan. Ahmad dan Dani tidak langsung singgah di rumah Maryam.

Hujan masih membasahi tubuh. Sementara motor mereka masih melaju. Angin bertiup dengan dinginnya. Membuat mereka menggigil kedinginan.

Magrib telah usai. Kumandang adzan sudah redup. Hujan pun mulai terkikis. Seakan merestui Ahmad dan Dani berangkat ke rumah Maryam. Lalu merekapun menancap gas motornya.

Di rumah Maryam, Ical terlihat rapi dengan gayanya yang khas. Dari jauh sudah terlihat Ahmad dan Dani sudah tiba. Mereka pun bersalaman. Di rumah Maryam terlihat sangat ramai. Banyak anak mudah yang main kartu. Tapi sedikit yang di kenal. Itupun belum akrab.

Ahmad dengan gayanya yang santai, dia langsung memanggil Maryam. Lalu minta izin pada Ical selaku pacar baru Maryam.

“Ical… aku bicara dulu dengan Maryam. Oke kawan?”.

“Oke… silahkan. Tidak apa-apa kok”, jawab Ical dengan wajah yang terlihat lain.

Ahmad dan Maryam terlihat asyik dan di selingi camda tawa. Sementara Ical dengan gelisahnya mondar-mandir di teras rumah. Sesekali Ical menelpon. Entah apa yang dia telpon.

Di ruang tamu Ahmad bersama Maryam bernostalgia dengan masa lalunya. Mengenang masa pacarannya. Walau juga sekarang masih status pacaran. Namun tidak jelas. Karena Maryam sudah menerima Ical seminggu yang lalu.

“Mar… sebenarnya aku ke sini ingin memperjelas hubungan kita. Karena aku dengar kamu sudah jadian dengan Ical. Aku mau tau siapa yang kamu pilih”.

“Sebenarnya aku masih sangat cinta sama kamu kak. Tapi sikap kakak yang tidak memperhatikan aku sehingga aku mengira kakak udah tak cinta lagi sama aku. Kalau aku disuruh memilih… tak ada yang aku pilih”.

“Kenapa..??”.

“Andai kakak mau berjanji akan lebih memperhatikanku lagi. Maka aku lebih memilih kakak di banding dia”.

“Maaf dek… aku tak mampu terlalu perhatian sama kamu. Aku bukan tipe orang yang terlalu perhatian. Kamu minta aku seperti Ical, yang perhatian sekali sama kamu. Aku tak bisa. Karena masih banyak yang ingin aku kerjakan selain ingn bertemu kamu…kutak bisa membagi waktu dengan baik”.

“Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku melihat Ical yang baru seminggu jadian. Aku tak sanggup memutuskan hubunganku dengannya. Nanti dia menganggap aku menjadikan dirinya sebagai pelampiasan saja. Kan tidak baik…”.

Hampir dua jam mereka berdua. Bercerita. Mencari jalan keluar. Sementara Ical terlihat sangat gelisah melihat pemandangan yang sedang terjadi. Bahkan Ical sudah menelpon teman-temannya untuk menghadang Ahmad dan Dani, kalau keputusan malam itu mengecewakannya.

Akhirnya Ahmad dan Maryam sepakat untuk pura-pura putus dan mengalah untuk Ical. Ahmad tau apa yang terbaik. Karena Maryam malamitu belum mau hubungannya berakhir dengan Ahmad, cinta pertamanya. Sedangkan Maryam juga tak sanggup memutuskan Ical. Dia takut terjadi apa-apa.

Ahmad sudah ingin pamit. Malam sudah terlampau larut. Dia memanggil Ical dan mengatakan padanya apa yang menjadi keputusannya. Lakasana transaksi jual beli. Tapi kali ini seorang perempuan yang jadi barangnya. Tanpa sadar Maryam dirinya hampir diperlakukan barang tak bernyawa.

Sudah lama Ical meminta Maryam untuk dijadikannya pacar. Tapi Ahmad hanya bilang ambil saja kalau dia mau sama kamu. Karena merasa tertantang, Akhirnya Ical bersungguh-sungguh. Akhirnya dia mendapatkannya. Walau sebenarnya Maryam tak mencintainya. Cinta Maryam hanya pada Ahmad, Cinta pertamanya. Dia mau karena terpaksa. Dipaksa dan diancam oleh Ical.

“Ical… malam ini aku titipkan Maryam sama kamu. Aku berharap kamu menjagnya. Mencintai dan menyanginya sepenuh hati. Jangan kamu mengotori cinta yang suci itu. Karena Maryam tidak mampu memilih siapa yang terbaik. Jadi aku memutuskan agar Maryam memilih kamu. Aku mengalah”.

“Baiklah kalau begitu aku berterima kasih sama kamu.karena rela melepaskannya demi aku. Aku juga mungkin perlu belajar banyak tentang hidup sama kamu. Kamu mengajariku banyak hal tentang hidup ini. Terima kasih kawan”. Tutur Ical agakmemuji. Walau dalam hatinya dendam dan merasa tidak enak.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Ayo semuanya. Aku pulang dulu ya..”.

Seminggu sudah Ahmad dan Maryam memutuskan untuk pura-pura putus. Ahmad melihat Maryam menikmati hari-hari itu. Ahmad akhirnya memutuskan untuk mengirimkan sepucuk surat untuk Maryam. Surat itu berisi kata maaf dan terimakasih. Serta kata putus hubungan Ahmad dengan Maryam.

Maryam membaca surat itu. Kaget dan sedih. Dia tak menyangka segitu cepat itu datang. Dia belum siap. Butiran air mulai menggulung dari pelupuk matanya. Menyesal karena dia merasa tlah menghianati kata hatinya. Dia salah pilih. Lalu dia teringat kata-kata Ahmad. “Setiap pilihan pasti ada konsekwensinya”(***)

READ MORE - Malam Transaksi Pacar

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati