Showing posts with label Cerpen Budaya. Show all posts

Setetes Mani untuk Hidup

Sunyi senyap malam itu. Jam pun tak berdetak. Tisha dalam kesendirian menatap langit-langit kamarnya. Sesekali memandang ke arah rak bukunya yang masih tersusun rapi. Ia merenungi nasibnya yang malang. Hatinya terasa gelisah. Matanya tak kunjung terpejam.

Jarum jam terus bergeser. Lima puluh menit telah berlalu dari angka tiga. Matanya belum jua lelap. Berbagai macam persoalan kembali merasuki pikirannya. Masalah kampus. Organisasi dan keluarga. Sesekali teringat akan dirinya yang makin hari makin tak jelas. Tisha berusaha melawan semua pikirannya yang megusik ketenangan. Ia berusaha memejamkan matanya yang sudah terlalu lelah.

Selang beberapa menit, adzan mengalung merdu ke angkasa. Mata mungil itu langsung membelalak kaget.

“Sudah subuh…”, bisiknya dalam hati.

Cepat ia bergegas menuju kamar mandi. Cuci muka dan berwudhu. Diraihnya mukenah dan sajadah berwarna biru langit itu. Ia berusaha untuk melawan hawa nafsunya. Berusaha shalat dengan harapan agar dirinya lekas keluar dari permasalahan hidupnya.

Usai shalat, Tisha kembali merebahkan badannya di lantai kamar. Selang beberapa menit matanya terpejam dan tertidur pulas.

Siang itu, Tisha bangun dengan kepala agak berat. Banyak beban pikiran yang dalam batok kepalanya. Beribu pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Jalaban teka-teki hidupnya belum ia pecahkan.

“Mengana aku sangat sulit bajía? Mengana orang tuaku tak pernah mau mengerti keinginanku? Aku ditelantarkan bagai ayam yang tak punya induk. Padahal aku pergi dengan niat baik. Ingin menuntut ilmu. Mengapa orang tuaku tak merestuiku? Aku berjanji akan bertahan hidup dengan hasil keringatku sendiri. Harusss!!!”, bisiknya dalam hati.

Ah… dunia memang kejam. Mau hidup baik malah tak direstui. Maksud hati berbuat baik. Tapi hidup berkehendak lain. Apa gunanya hidup dalam moral yang berhiaskan kebaikan. Namun pada akhirnya akan mati dalam keadaan terpaksa. Mati kelaparan. Dibenci karena terlalu jujur. Mengagung-agungkan kebenaran tak selamanya berbuah manis.

Tisha sudah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan hidup. Mencari kerja. kerja sambil kuliah. Namun tetap saja tak berhasil. Terkadang hanya beberapa bulan saja bekerja sudah dipecat. Melamar lagi. Diterima. Dipecat lagi.

Malam minggu itu, Tisha mendapat telpon dari bosnya. Tempat ia bekerja. Ia diajak keluar makan malam sambil menikmati udara dingin.

“Ada waktumu untuk menemani aku makan malam? Ada acara sekaligus membicarakan perkembangan perusahaan. Bagaimana?”, ajak bosnya dengan wajah penuh harap.

“Baiklah kalau begitu”.

Malam telah larut. Mereka masih asyik menikmati riak gelombang laut. Terlalu indah pantai itu. Sehingga mereka tak kunjung pulang. Bagi Tisha itu adalah waktu untuk melupakan masalahnya. Namun bagi bosnya itu adalah kesmpatan untuk lebih dekat dengan Tisha.

“Tisha… Bagaimana kalau malam ini kita bermalam di hotel saja. Aku ingin membantumu untuk melupakan masalahmu”, ajak bosnya dengan nada mesra lagi lembut, sembari meraih tangan Tisha.

Tisha sempat berpikir. Namun karena ia diberi iming-iming akan dibayar dengan jumlah yang tak sedikit, dan ditambah dengan jaminan kerja yang aman. Sehingga Tisha menerima tawaran itu.

Dalam kamar hotel yang berbintang lima itu, Tisha memandang ke arah jendela kamar. Ia berbisik dalam hatinya. “Tuhan aku akan melakukan yang mungkin sangat engkau laknat. Tapi kumohon izinkan aku untuk kali ini saja. Setetes saja untuk menyambung hidupku. Aku takut padamu. Ini semua kulakukan demi mempertahankan hidup. Supaya aku bisa hidup lebih sejahtera”. (***)

Gowa, Juni 2009

READ MORE - Setetes Mani untuk Hidup

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Nostalgia Sumbangan di Hari Kampanye

Langit tertutup awan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Terasa sejuk udara pagi itu. Terik mentari pun tak jua muncul. Seakan cuaca ingin menyampaikan pesan tersendiri bagi insan yang hendak bepergian. Pergilah dan nikmatilah perjalananmu!
Pagi itu, Hafid salah seorang Caleg tingkat dua bergegas meninggalkan kediamannya. Hendak ia ke rumah temannya, Iksan. Memperkuat ikatan kesepakatan sebelumnya. Menjadi perpanjangan tangannya di kampung itu. Tim sukses bisa dibilang.
“Ada di pos ronda main domino”.
Itulah jawaban orang-orang di kampung jika ada yang menanyakan keberadaan Hafid beberapa bulan terakhir. Seorang pengangguran memberanikan diri jadi Caleg. Dengan harapan mengubah nasibnya.
Hari-hari menjelang pesta demokrasi, Hafid terlihat sibuk dengan pakaian rapi. Pergi pagi pulang pagi. Sibuk sosialisasikan diri dan partainya. Iyah… maklum partai baru. Umurnya baru setahun. Terlalu muda untuk bersaing dengan partai lama. Namun bagi Hafid tak menjadi persoalan. Ia selalu optimis. Yang penting usaha dulu. Apalagi masyarakat selalu menyambut baik tiap ia datang ke setiap kampung.
“Bagaimana keadaan di sini?”, Hafid memulai pembicaraan sesampainya ia ke rumah Iksan.
“Persaingan ketat. Tapi sabar saja. Sudah ada kontrak politik dengan beberapa tokoh masyarakat di sekita sini”, Iksan mencoba memberi semangat pada temannya.
“Apa yang sudah dilakukan Caleg lain di kampung ini? Siapa tau saya juga bisa bantu”.
“Banyak yang membagi-bagikan sarung, baju, jilbab, bibit, herbisida dan macam-macam deh. Pokoknya banyak”.
Iksan cerita banyak dengan Hafid. Mulai bicara strategi merebut simpati dan suara masyarakat. Sampai bagaimana menjatuhkan lawan yang dianggap paling berpengaruh di kampung itu. Akhirnya mereka mendapat kesepakatan. Yaitu dengan memperbanyak sumbangan yang bisa dinikmati masyarakat banyak dan harus banyak uang untuk menyaingi Caleg lain.
“Bagaimana kalau kita sumbang saja lampu jalan. Berhubung karena sepanjang jalan ini masih sangat gelap di waktu malam. Lagi pula belum ada Caleg lain yang lebih dulu. Pasti masyarakat simpati”. Usul Iksan.
“Boleh juga. Tapi sekitar berapa kira-kira yang dibutuhkan?”, Hafid menyetujui
“Satu desa saja. Sekitar dua pulahan buah. Pokoknya saya yang bertanggung jawab untuk desa ini”, tutur Iksan.
“Bagus juga mungkin pak kalau kita sumbang juga mesjid. Kebetulan di mesjid kita ini baru dibangun. Belum ada uang untuk atapnya. Mungkin bisa seperduanya saja kalau bisa”, usul orang tua yang dari tadi tidak pernah menyahut.
Hafid menatap baling-baling kipas yang sedang berputar. Ia berpikir dengan usul orang tua tadi. Berpikir berapa dana yang dibutuhkan. Efektif tidak. Cukup tidak keungan yang ada sekarang.
“Minta dana saja di Caleg pusat”, pikir Hafid menemukan solusi.
“Baiklah… saya akan sumbang mesjid kita ini. Tapi dengan sayrat masyarakat di sini mau bersatu memilih saya”, Hafid menyatakan kesetujuannya.
Beberapa hari kemudian, teranglah kampung itu dengan sinar lampu jalan. Atap mesjid pun tiba. Tinggal dipasang. Masyarakat pun menikmati detik-detik Pemilu. Namun Caleg lainpun tak mau ketinggalan. Mereka tidak menyumbang tempat umum, tapi gerakannya langsung menyentuh dari rumah ke rumah. Memberikan sumbangan bersyarat pada siapa saja yang mau. Tapi hanya sedikit yang tidak mau.
Tiap rumah didatangi, selalu disambut baik. Dan mengatakan belum ada yang datang selain kamu. Lalu Hafid pun tambah optimis akan kemenangannya. Uangnya pun tak segan-segan keluar dari kantongnya.
Kini Pemilu segera tiba. Tinggal hitungan jam. Masyarakat di desa itu hampir tak dapat menikmati tidurnya. Lebih-lebih para panitia Pemilu. Turun Caleg yang satu, naik yang lainnya. Serangan fajar. Malam itu hampir tiap kampung seakang banjir uang. Sepuluh ribu. Dua pulu ribu, lima puluh ribu. Seratus. Bahkan ada yang membeli satu juta perkepala. Bukan main persaingan. Orang bilang, orang miskin dilarang jadi Caleg.
Sementara Hafid tak tidur jua. Keliling Dapilnya untuk mempererat ikatannya. Mendatangi seluruh tim suksesnya. Namun ia hanya mampu memberikan uang jalan khusus untuk timnya saja. Hafid tak punya peluru banyak. Uangnya habis untuk sumbangan. Sedikit sekali persiapan serangan fajarnya. Hampir tidak ada. Ia hanya berserah diri pada Tuhannya. Apa kehendaknya. Takdir telah tercatat.
Tak terasa mentari mulai muncul. Menyinari jagat raya. Para anggota KPPS pun sibuk. Wajib pilih pun mulai berdatangan. Saatnya panitia bereaksi. Mereka telah dibayar banyak oleh Caleg tertentu. Termasuk pemerintah setempat. Mereka telah sepakat menggolkan figure tertentu. Sumbanganpun tak teringat. Uang ratusan jutapun tak berarti. Panitialah yang banyak berperan. Mereka mengambil kesempatan bagi orang tua yang buta huruf. Memandu mereka. Belum lagi masyarakat diintimidasi. Diancam guna mengarahkan pada Caleg tertentu. Penggelembungan suara bukan hal yang sulit bagi panitia. Itulah banyak yang terjadi. Kerjasamannya terstruktur.
Seusai perhitungan. Hafid memantau suara yang berhasil ia dapat. Minim sekali. Tak ia sangka hasilnya akan seperti itu. Mengecewakan. Lalu Hafid pun kembali ke rumahnya. Hafid menerima pesan singkat dari berbagai timnya. Namun tak ada yang menggembirakan. Tak ada yang menang satu TPS pun.
Sehari kemudian, Hafid lalu memanggil Yusran, tetangganya yang punya mobil pic up. Menarik sumbangannya yang di masyarakat. Atap mesjid. Lampu jalan dan berbagai sumbangan lainnya disita.
“Dasar masyarakat. Semuanya penghianat. Perbuatan baik kita selama ini terkubur dengan uang sepuluh ribu. Sungguh masyarakat sudah berubah. Semua memikirkan dirinya sendiri. Tak ada lagi yang bisa dipercaya. Mereka tak dapat dibaca...”, gerutu Hafid sambil menghisap udara dalam-dalam.(***)
Special buat para Caleg yang gagal. Semoga menjadi bahan pembelajaran. Bukan malah stresszzz…
Gowa, April 2009
READ MORE - Nostalgia Sumbangan di Hari Kampanye

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Hanya Mimpi yang Ku Mampu

“Cara aku merasakan segalanya adalah dengan bermimpi”. Ungkapan itu ditulisnya besar-besar di dinding gubuknya. Itulah cara Ahmad menjalani hidupnya tiap hari. Tukang sampah yang angan-angannya selalu mengawan. Dia selalu menikmati hidupnya dengan bermimpi. Lelaki yang telah menjalani hidup dua puluh lima tahunan itu tak pernah batinnya menderita. Dia selalu merasakan apa yang mungkin dirasakan orang yang mapan secara ekonomi. Bahkan lebih dari mereka.
“Andai bermimpi harus dibatasi. Maka mungkin akulah orang yang pertama mengangkat tangan dan mengusung dada untuk melawan kebijakan itu. Siapaun itu, termasuk Tuhan. Akan aku lawan jika dia melarang aku tuk bermimpi”. Begitu batinnya berbisik.
Ahmad yang kesehariannya menjajaki tumpukan sampah, tak pernah batinnya tersiksa dengan kehidupannya yang jauh dari layak itu. Dia lelaki tegar menjalani hidup yang sangat kejam ini. Tak salah jika dia menyebutnya hidup ini sebagai pilihan.
Menurutnya hidup itu terlalu indah. Tak kalah indah dengan surga yang kenikmatannya tak terbayangkan. Hidup itu hanyalah kepiawaian memilih. Jika manusia memilih hidupnya sensara, maka itulah yang dijalani. Namun jika hidup itu dipandang sebagai taman surga, maka itulah yang dirasakan. Manusia hanya dituntut untuk melawan penderitaan. Perasaan tidak puas. Dan segala penyakit hati yang terlalu banyak manusia menjadi korban.
Hidup itu indah. Hidup mudah. Hanya saja menjalani hidup itu terkadang pahit. Mempertahankan hidup terkadang susah. Namun di situ manusia ditantang Tuhan. Karena hidup tak kan pernah dirasakan indah tanpa tantangan. Tak ada mudah tanpa kesusahan. Manusia dituntut mana yang mampu dirasakan.
Ahmad terus saja merenungi kehidupannya. Hidup orang lain. dan terkadang menertawakan dirinya sendiri. Juga terkadang heran dengan orang yang hidup serba berkecukupan namun mengeluh belum bahagia. Belum merasakan indahnya hidup. Dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang tukan sampah namun selalu merasakan keindahan hidup dan kebahagiaan.
Bagi Ahmad cukup ada yang dimakan untuk menyambung hidup. Soal kemewahan itu hanyalah sesaat. Mencari kemewahan yang terlalu hanya membuat batun tersiksa. Terlalu sibuk dengan urusan keduniaan. Ahmad takut jangna sampai urusan dunia membuatnya ingkar pada Tuhan-Nya.
Seringkali Ahmad heran dengan pejabat yang kerjanya Cuma numpukin harta. Ngorup uang rakyat. Yang gencar mengkampanyekan kebenaran. Anti korupsi. Perjudian. Narkoba dan sikap asusila lainnya. Malah mereka yang melakukannya.
“Benar-benar negeri ini negeri aneh. Republik gila. Lebih baik aku bermimpi saja untuk mendapat seluruh kebahagiaan yang dicari semua orang. Untung aku masih dapat bermimpi. Kalau tidak, maka mungkin akulah orang yang paling menderita. Karena tanpa harta dan tanpa pendidikan. Tak ada bekal sama sekali…….”(***)
READ MORE - Hanya Mimpi yang Ku Mampu

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Tukang Becak Harus Sarjana

Tukang Becak Harus Sarjana


Sedih bercampur bahagia. Tertawa dan terkadang menangis. Pikiran selalu kacau hanya sesekali dalam kondisi stabil. Antara bahagia dan sensara. Tiap saat, tiap detik hanya ada dalam keragu-raguan. Di atas becak tuanya, Daeng Gassing merenung meratapi nasibnya. Tanpa sadar, tiba-tiba Daeng Gassing mengusap-usap kepalanya lalu membuka diskusi dengan teman-temannya. Pagi itu, di tempat mangkalnya. Di atas becaknya masing-masing terjadi perdebatan hangat diantara mereka. Para tukang becak itu ternyata juga sangat respon terhadap pesta demokrasi yang akan diadakan di Kota itu.

Bagaimana pendapatmu tentang pemilihan walikotayya?”, Tanya Daeng Gassing membuka pembicaan.

Maksudnya Daeng Gassing!?”, Daeng Tompo kembali bertanya dengan nada kurang mengerti.

Maksudku siapa calon ta’ yang kita dukung”.

Tapi katte duluan. Inai katte?

Pembicaraan mereka berlanjut dan saling menyebut nama calon mereka masing-masing. Mereka lalu saling menjatuhkan. Saling mencemooh.

Apaji itu calonmu… apa tonji programnya..!! paling dia hanya cari uang dan mengejar kedudukan. Ero’naji nikana”. Daeng Tompo mulai merendahkan calonnya Daeng Gassing.

Janganki’ bilang begitu dulu… nanti tompi dilihat. Lagian dia tidak ada cacat di masyarakat. Tidak pernah korupsi”. Daeng Gassing membela.

Temannya yang lain mulai membuka mulut. Dia pun bertanya. “Janganki’ bilang begitu tawwa. Calonta iyya, apa programna yang dia andalkan?”.

Menurunkan harga makanan pokok dan barang-barang daganganka. Membasmi koruptor. Dan gratismi pendidikan juga kesehatanka

Iyyo… tapi janganki’ mau diperdaya janji-janji politikus. Lebih banyak bohongnya. Tidak bisa dipercaya”.

Untungji kalau na ingatji kalau terpilihmi. Biasanya alasannaji jai. Tidak ada bukti”. Sahut temannya yang lain.

Sekarang buttia parallu”.

Tempat mangkal mereka bertambah seru dengan diskusi tentang calon walikota dan wakil walikota kebanggaan dan pilihan mereka masing-masing. Mereka sudah tidak sadar penumpang telah banyak lewat. Ditawari oleh penumpang pun mereka tidak sadar. Mereka seakang-akang sudah tidak butuh duit. Padahal masih pagi. Mereka hanya sibuk bertengkar mulut. Saling mengunggulkan calon kebanggaannya. Saling menjatuhkan satu sama lain. Mereka seakan terlihat seperti mahasiswa berdebat masalah ideology. Laksana ulama berdiskusi persoalan khilafiyah. Bagai pejabat sedang sidang membahas rancangan undang-undang. Mereka tidak mau kalah. Mereka mau hanya dia yang terbaik dan paling benar. Hanya calonnyalah yang mampu melakukan perubahan. Mensejahterahkan. Membuat hidup lebih baik.

Suasana tambah panas. Adu mulut makin seru. Mata memerah. Mulut makin komat kamit. Tanpa sadar, Daeng Tompo memegang kayu kecil lalu melempar Daeng Gassing. Seketika itu juga sadar. Mereka baru sadar mereka terlalu jauh mengurusi yang seharusnya bukan urusannya.


Gowa, 13 Oktober 2008


READ MORE - Tukang Becak Harus Sarjana

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sanro

Sanro

Malam tidak terang juga tidak gelap. Remam-remam malam menghiasi indahnya lampu yang redup. Sebutir bintang terlihat cerah dan bersinar. Hanya cahaya bintang dan lampu redup yang setia menemaniku malam itu. Dalam kesendirianku aku lama merenung. Meratapi nasib yang ku alami. Kudiperhadapkan pada persoalan pilihan. Ku harus memilih antara ia atau tidak. Ikut atau bertahan. Menuruti nasehat orang lain atau tetap pada keyakinan yang selama ini tertanam dalam diriku.

Sebentar lagi pemilihan kepala desa akan segera digelar. Aku tak habis fikir bagaimana strategi untuk memenangkan Pilkades itu. Aku belum puas dengan hasil survey tim suksesku. Walaupun survey mengatakan akulah pemenang. Tapi itu belum pasti. Aku tak mau Cuma unggul dalam survey. Tidak dalam kenyataan. Aku khawatir seperti pada Pilkada Jawa Barat. Unggul dalam survey ternyata kalah. Aku tidak mau itu.

“Aku harus menang..!!!”.

Ku berteriak sekuat mungkin. Supaya malam menjadi saksi bisu. Agar malaikat mendengar tekadku yang begitu kuat. Kubiarkan teriakanku memecah kesunyian malam. Supaya malam dan babi hutan turut bersaksi. Aku benar-benar ingin berjuang demi rakyat.

Di tengah kebun. Di atas gubuk tempat aku menyendiri. Aku mendengar suara asing.

“Datanglah ke Daeng Sattu. Niscaya kamu akan dibantu”.

Suara asing itu terdengar sangat jelas. Tiga kali suara itu berulang dengan nada yang sama.

Aku sedikit takut. Jantungku terasa berdebar. Pompa jantungku semakin cepat. Aku teringat pada nasehat mertuaku.

“Kamu ke Daeng Sattu supaya nanti kamu menang melawan calon yang lain”.

Begitupun warga pendukungku. Mereka menyararankan untuk mencari obat supaya orang banyak suka padaku. Bunga ria-ria, orang kampung bilang. Atau paling tidak pendukung tidak berpindah pilihan. Supaya selalu setia pada pilihan semula.

Lama terpikir olehku. Suara tadi begitu jelas. Lawan politikku semuanya punya sanro. Semuanya dukun terkenal yang mereka datangi. Mereka tidak mau ke dukun yang ada di kampung. Mereka gensi.

Daeng Sattu, dukun yang dikenal warga mujarab do’anya. Ia sanro bisayya pabballena. Tinggal ia yang tidak didatangi oleh lawan politikku. Hanya ia sanro yang kukenal rajin shalat berjamaah di masjid. Yang lainnya tidak.

Malam itu, kubenar-benar dilematik. Mempertahankan antara keyakinan dan cita-cita. Aku sulit mempercayai baca-baca sanro. Aku tidak mau dicap Pak Ustadz orang sirik. Aku tidak mau hanya gara-gara pangkat dan jabatan menjatuhkanku pada jurang api neraka. Cuma kedudukan membuat imanku ternodai. Aku tak mau itu.

Pikiranku melayang-layang. Terbang kesana kemari mencari angin segar. Mencari solusi permasalahan.

Pikiranku hinggap pada daun sajadah. Kuingat Tuhan. Kuputuskan untuk shalat. Minta petunjuk pada sang Maha Mengetahui. Maha Pemberi Petunujk. Di atas gubuk itulah, kutengadahkan tanganku. Kurapakan jidatku. Minta petunjuk. Shalat istikharah. Kemudian kulanjutkan dengan shalat hajat. Tak terasa suara kokok ayam berbunyi. Kumandang subuh pun bergemah. Aku meninggalkan gubuk itu lalu bergeser ke mesjid.

* * *

Sinar mentari membangunkanku. Kubuka mataku perlahan. Kupandang karpet di lantai itu. Lalu kuperhatikan kaligrafi yang menempel pada dinding masjid itu. Kubaru sadar kalau aku tertidur dalam masjid. Aku langsung bangun. Pergi ke rumah.

“Dari mana saja kamu semalam?”, mertuaku menyambut.

Ada urusan sedikit…”, jawabku.

“Begini nak, sebentar kan malam jumat. Setuju tidak kamu ke Daeng Sattu. Dukun itu..”. mertuaku mengalihkan pembicaraan.

“…………..”.

“Kok kamu diam aja. Kelihatan pusing begitu. Mau tidaknya kan terserah kamu juga. Kami tidak memaksa kok”.

Aku menarik nafas panjang. Menarik nafas dalam-dalam. Aku memikirkan suara tadi malam. Suara itu masih terniang di telingaku. “Ahh…. Iya aku setuju tuk kesana. Ke Daeng Sanro. Tapi tidak pakai jampi-jampiji to?”.

“Tidakji… namanya juga minta doa. Kan Allah bilang, mintalah pasti akan kukabulkan. Berusaha sambil berdoa. Iya kan?”.

“Iya. Tapi mengapa harus dia yang mendoakan?”.

“Makin banyak yang mendoakan makin bagus kan? Mengapa harus dia… karena doanya biasanya maqbul”.

Di Sanro itu, aku mendapatkan petuah-petuah penyejuk jiwa. Banyak pelajaran hidup yang dapat kupetik. Pelajaran agama pun tak lupa menyertainya.

Sepulang dari sana, hati ini terasa tenang. Ibadah tambah ringan. Ternyata Daeng Sattu bukan hanya sanro. Tapi juga ustadz dan penasehat spiritual. Wajahnya berseri. Bersinar.

Pemilihan pun telah digelar. Dengan sikap tenang menghadapi lawan. Akhirnya aku terpilih menjadi pemenang…(***)

Gowa, 20 Oktober 2008*

READ MORE - Sanro

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati