Surat Itu, di Hari Valentine

Semoga cinta dan kasih sayangmu pada siapapun selalu bertambah seiring dengan bertambahnya usia.

Dan kebencian dan pikiran negatifmu selalu berkurang seiring dengan berkurangnya jatah hidup di dunia ini. Semoga....!!

Seminggu yang lalu, Indah menyepakati pura-pura putus dengan pacarnya, Rafli. Merekapun menyepakati akan kembali terus terang pada waktunya yang tak di tentukan. Sampai pada masa aman. Mereka berbuat seperti itu karena Indah takut pada laki-laki yang selalu mengejarnya. Ke manapun dia berada.

Indah diancam jika tak mau padanya. Tak mau menerima cintanya. Lelaki itu bernama Arif. Lelaki yang cinta mati pada Indah. Indah akhirnya terpaksa menerima Arif lantaran takutnya. Sementara Rafli tau hal itu. Dia tak mau ribut hanya gara-gara seorang perempuan. Akhirnya merekapun sepakat untuk pura-pura tak ada hubungan spesial lagi.

Sangat sulit Indah mencintai dengan terpaksa. Dia telah menemukan cinta sejatinya, Rafli. Tapi kini mereka mendapat tantangan. Walau sudah sekian kali mendapat tantangan. Dia tak dapat bayangkan jikalau dia harus berpisah dengan Rafli. Dia belum mampu.

Tanggal 14 Februari telah tiba. Indah menikmati malam itu. Malam kasih sayang, orang bilang. Atau lebih dikenal dengan sebutan valentines day. Entah apa gerangan megapa orang sangat menspesialkanny malam itu. Beragam macam dilakukan orang untuk merayakannya. Mulai dari mabuk hingga kirim-kiriman SMS selamat.

Malam itu, bertepata dengan hari kasih sayang. Rafli dengan tangannya sendiri memberikan kertas itu pada Indah. Sepucuk surat terakhir. Pertanda pura-pura menjadi sungguh-sungguh. Entah apa gerangan Rafli sudah memutuskan hubungannya dengan Indah. Tapi semua itu terjawab dari lembaran suratnya.

Orang lain menyambut malam itu dengan mesra-mesraan. Tapi Indah lain. Dia menjalani malam itu dengan memutuskan cinta yang telah lama terjalin. Walau dia pun juga bersama pacar barunya. Tapi itu tak dirasakan Indah.

Dibukanya. Lalu dibaca perlahan………….

Sebelum dibaca senyumlah tiga kali, kemudian bacalah ‘BASMALAH’

Benang Merah Dunia Kita

Hadirnya coretan ini bukan dengan maksud mengecewakan dan membuat kamu simpati lagi terhadapku. Apa lagi dengan maksud ingin menghancurkan hubungan kamu dengan dia. Tulisan ini hanya semata-mata untuk kamu ketahui isi hatiku yang sebenarnya. Sehingga semua jelas tanpa adanya lagi tanda tanya dalam dirimu yang membuatmu gelisah.

Janganlah pandang coretan ini sebagai sesuatu yang menyedihkan. Tapi lihatlah sebagai kabar gembira yang datang dari seseorang yang tak pernah memperhatikanmu. Sebelum terlalu jauh, terlebih aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Sebab hanya engkau yang pernah aku kenal sebagai gadis yang baik tak pernah banyak menuntut. Walaupun menuntut tapi tak terucap. Engkaulah yang pernah membuat hatiku bahagia. Walaupun juga sedih dan kecewa.

Terima kasih atas semua curahan cinta dan kasih sayangmu selama ini. Walaupun aku tak pernah memperhatikanmu, kamu selalu memperhatikanku. Aku selalu cuek ditengah perhatianmu.

Mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala sifat dan tingkah laku yang tak pernah sejalan dengan kemauanmu. Aku sadari… aku punya sejuta salah. Andai dosaku dapat terlihat, pastilah dunia penuh dengan kegelapan disebabkan dosa-dosaku terhadapmu. Kumohon kiranya engkau dapat memaafkanku. Aku tidak sanggup memikul dosaku. Tuhan pastilah murka terhadapku jika engkau tak memaafkanku. Namun aku yakin kamu telah memaafkanku. Karena kamu adalah orang yang paling pemaaf dan paling baik yang pernah aku kenal. Semoga…!!!

Harga diri sebagai manusia ada pada kehormatan. Cara bergaul dan kemampuan menjaga kesucian diri dari segala hal yang kotor sebagai tolak ukur kehormatan setiap orang. Harga diri dinilai dari kehormatan seseorang. Hati-hatilah dalam bergaul. Lingkungan adalah salah satu faktor pemicu dan pendukung baik tidaknya pergaulan seseorang.

12 februari lalu kuanggap itulah awal dari masalah ini. Kamu sengaja cari-cari masalah. Aku tau saat itu kau bosan dengan aku. Dengan dalih ulang tahun itu adalah hari istimewa buatmu. Tapi entah kenapa, kamu tidak menganggap ulang tahun orang lain itu tidak istimewa? 27 September yang lalu adalah hari kehadiranku dimuka bumi. Namun aku tidak mempersoalkan itu. Entah kamu tau atau tidak, yang jelas kamu hanya cari masalah. Maka hari inilah kita akhiri semua sandiwara kita.

4 maret yang lalu kita sepakat. Tapi entah apa dan kenapa aku merasa tidak enak dengan kamu. Entah kamu terlalu bahagia dengan dia, sehingga ruang bagiku hilang sirna dihatimu. Tak secuilpun aku ada dihatimu. Bersih sudah aku ini dalam dirimu. Aku yakin, malam itu kamu merasa bangga memenangkan permainan. Berhasil menghimpun secara bersamaan. Kamu memang wanita perkasa.

Melalui coretan ini, ingin kuucapkan kata terakhirku untukmu. Pesan yang menjadi harapanku untukmu. Kutak mau kita hidup dalam ketidak jelasan. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Aku ingin kau jauh dalam hatiku.

Walau engkau berat kubuang dalam bayang-bayang hidupku. Namun kulihat itulah yang terbaik untukmu. Aku tak ingin membatasi ruang hidupmu. Terbanglah sesuka hatimu. Namun jangan pernah kau lupa etika hidup dalam bergaul. Adab dalam bermasyarakat jangan pernah kau kesampingkan. Akhlak dalam beragama jangan pernah kau buang. Pacaran hukumnya boleh, selama masih sanggup menahan dari godaan hawa nafsu. Berkhalwat (berdua-duan di tempat sepi) sudah bukan hal yang tabu. Namun perlu disadari godaan tak pernah kita tau. Iman tak selamanya kuat.(***)


Hilangkan cintaku dalam hatimu, namun kasihku jangan pernah kau buang.

Lupakanlah aku, namun jangan pernah membenciku.

Jangan pernah hadirkan dalam hatimu kebencian terhadap sesuatupun. Sebab kebencian hanya membuatmu menderita………

Jalinan cinta dan kasih yang dibungkus dengan bingkai pacaran hanya sebagian kecil dari cinta dan kasih yang sesungguhnya. Dan itu ditemukan dalam pergaulan sehari-hari. Gerakannya lambat tapi pasti.


Sekedar Renungan…

Ketahuilah ….. Cinta sejati tak kan pernah ada dimuka bumi ini. Sebab tak ada cinta tanpa syarat. Cinta penuh dengan sejuta syarat.


Cinta walaupun… Bukan cinta karena……. Itulah cinta sesungguhnya.


Belajarlah mencintai dengan hati dan pikiran. Jangan pernah mencintai karena dendam dan hawa nafsu.


Pandanglah segala sesuatu dengan penuh kebahagiaan. Jangan tunda kebahagiaanmu sampai hari esok. Janganlah terjebak prisip; “berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Lalu kapan bahagianya. Harus nunggu besok. Esok belum tentu hidup….


Senyumlah sepuasmu setelah engaku baca coretan terakhirku untukmu. Aku tau inilah yang kau tunggu.

Dibaca. Dihayati kata per kata. Kalimat per kalimat. Dari matanya beralih ke pikiran lalu masuk ke dalam hati. Di sanalah bersemayam dan bersenandung kata-kata itu.

Setelah dibacanya. Indah dengan mata sayup tanpa sinar menggulung kertas itu. Lalu tanpa sadar butiran air mata menetes. Hatinya seakan layu. Debaran jantung semakin keras. Pikiran tak terarah. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Pandangannya sayup-sayup. Alam sekitarnya mulia gelap. Sampai dirinya dilihatnya pada sebuah padang luas tak bertepi.

Di padang itulah dia bertemu dengan segala pelajaran hidup. Hikmah hidup telah ditemukannya. Cinta tak selamanya memiliki. Tak seterusnya bersama. Namun kebahagiaan akan selalu hadir tanpa orang yang dicintai. Dia menemukan suatu pesan dan prinsip hidup. Seakan padang sekelilingnya berkata, janganlah kamu GANTUNGKAN KEBAHAGIAANMU PADA APA DAN SIAPAPUN niscaya kamu akan selalu hidup dalam kebahagiaan.

Indah pun kembali dari tidur lelapnya. Dengan mata terperangah, memandang orang-orang di sekelilingnya….(***)

READ MORE - Surat Itu, di Hari Valentine

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Malam Transaksi Pacar

Malam Transaksi Pacar

“Sayang ada telponta, dari itutu…” Bunyi dering ponsel Ahmad membuat orang di sekitarnya kaget. Saat itu dia sementara kuliah. Untunglah dosen baik hati. Tidak galak lagi. Beda dengan waktu sebelumnya, bunyi sedikit marah.

Dilihatnya layar ponselnya, tertulis nama Maryam, pacarnya, yang sedang memanggil. Segera Ahmad menjawab panggilan itu. Diangkatnya. Lalu keluar dari ruang kuliahnya.

“Hallo,Assalamu Alaikum…”

Di seberang sana terdengar jawaban salamnya. Yang menelpon suara laki-laki. Tidak biasanya Maryam meminjamkan Ponselnya pada laki-laki lain. Ahmad merasa curiga. Kecurigaan itu bertambah tatkala suara itu menyebutkan namanya. Ternyata yang menelpon adalah Ical. Laki-laki pengagum Maryam sejak SMA. Ical sudah lama memendam hati. Namun dia masih sungkam mengungkapkannya. Karena dia tidak mau menghianati temannya sendiri, Ahmad.

Itu dulu. Tapi Sekarang Ical sudah tak sanggup lagi memendam cintanya. Apalagi kini Maryam sudah dekat dengan Ical. Mereka berdekatan. Ical tinggal dekat Kampus Maryam. Jadi mereka sering bertemu.

Sebenarnya Ical sudah lama terus terang pada Ahmad. Ahmad juga tak pernah menghalanginya untuk mendapatkan cintanya Maryam. Namun Maryam sendiri yang memang tak mencintai Ical.

Sekarangpun belum jelas bagi Ahmad, apakah betul Maryam beralih hati pada Ical. Tapi kayaknya memang iya. Setelah Ical menelpon tadi, yang katanya ingin ketemuan secepatnya di kost salah seorang temannya. Itu menjadi pertanda bagi Ahmad. Tapi itu belum jelas.

Jarum Jam sudah beralih. Kini sudah menunjuk angka tiga. Itu artinya pelajaran usai sudah. Ahmad segera keluar dai ruangannya. Berangkat cepat ke tempat yang dijanjikan bertemu Ical. Ahmad mengira Maryam juga ada di sana. Tapi salah prediksi. Sesampai di sana, banyak teman-teman Ahmad. Dia bertemu Ical. Bertanya apa maksud Ical memanggilnya kemari. Namun itu tak dijawab dengan benar. Hanya dijawab Cuma rindu. Hampir tak ada obrolan yang bermanfaat.

“Apa ya kira-kira yang hendak diomongin Ical kepadaku… apa mungkin tentang Maryam!??”, kata Ahmad dalam hati, penasaran.

Dalam tengah penasaran Ahmad. Ical tiba-tiba memanggil ingin berangkat. Ahmad dan Dani segera memenuhi panggila Ical. Merekasegera pamit berangkat. Mereka berboncengan tiga menuju kost Ahmad. Di sana mereka masak, lalu makan bersama.

Nasi mulai nanak. Ponsel Ahmad berbunyi lagi. Dilihatnya yang menelpon adalah Ida, teman kampusnya Maryam. Di balik ponsel menyahut.

“Hallo… dengan Kak Ahmad?”.

Ahmad mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Lalu menjawab.

“Iya… Aku. Kenapa? Ini dengan siapa ya?”.

“Aku kak… Maryam. Sudah lupa ya sama aku”.

“Tidak sayang… Tak mungkin aku lupa. Habis suaramu aja yang tambah merdu. Sampai-sampai aku tak mengenali lagi suaramu”, jawab Ahmad dengan nada gombal.

“Ah kakak bisa aja… kakak sih tak pernah nelpon aku lagi”.

“Kenapa..? kamu rindu ya sama aku? Ayo ngaku…”

“Sebenarnya sih iya kak. Habis cuma sekali sebulan nelponnya. Ketemu juga tidak”.

Mata da raut muka Ical mulai berubah saat mendengar suara Maryam di telpon. Yang mesra dengan Ahmad.

Tiba-tiba Ahmad mengalihkan pembicaraan.

“Kamu bisa ke rumah tidak? Soalnya bayak teman-teman kita di sini. Teman SMA…”.

“Betul..?? Siapa-siapa?”.

Ada Dani… Ical juga ada. Pengagummu dulu sampai sekarang”, tutur Ahmad sambil ketawa kecil.

Karena Maryam merasa diejek, dia langsung mematikan ponselnya. Dihubunginya kembali sudah tidak aktif. Dia mungkin benar-benar tersinggung. Karena seminggu terakhir Maryam dengan Ical sudah jadian. Maryam menerima cintanya Ical walau dia hanya terpaksa. Takut karena diancam. Juga karena pertimbangan Ahmad tidak lagi memperhatikannya.

Mereka menikmati masakan bertiga. Usai makan, Dani mengajak Ical dan Ahmad jalan-jalan ke sekolah waktu SMA-nya dulu.

Langit mulai mendung. Awan-awan sudah mengepul dengan genitnya. Butiran hujan sudah mulai turun satu persatu. Sesampai mereka ke sekolah, air pun tumpah dari langit. Dani dan Ahmad pergi berteduh di rumah gurunya. Sedangkan Ical ditinggal di sudut sekolah. Dia dipanggil ikut. Tapi tak mau.

Di belakang Dani dan Ahmad, Ical menelpon Maryam. Ical bilang kalau dia mau dikeroyok oleh Dani dan Ahmad. Dengan keadaan hujan. Maryam bersama adik laki-lakinya menuju ke sekolah. Sesampai Maryam ke sekolah, Dani dan Ahmad pun baru keluar dari rumah pak guru. Mereka menuju ke tempat di mana Ical berada.

Ahmad kaget mengapa ada adik laki-lakinya Maryam. Ahmad dan Dani hanya memandang ke arahnya. Lalu Ical mengajak Ahmad dan Dani pulang. Sembari dia naik ke motor adik Maryam. Ahmad dan Dani pun ikut menancap motornya.

Di gerbang sekolah, Maryam menunggu. Lalu Ahmad dengan santainya menegur Maryam.

“Kenapa kamu juga ada di sini?”.

Maryam dengan wajah geram memandang tanpa ada jawaban. Lalu mereka menuju ke rumah Maryam. Maryam dan Ical beserta adiknya dalam satu motor. Sedangkan Ahmad dan Dani berboncengan. Ahmad dan Dani tidak langsung singgah di rumah Maryam.

Hujan masih membasahi tubuh. Sementara motor mereka masih melaju. Angin bertiup dengan dinginnya. Membuat mereka menggigil kedinginan.

Magrib telah usai. Kumandang adzan sudah redup. Hujan pun mulai terkikis. Seakan merestui Ahmad dan Dani berangkat ke rumah Maryam. Lalu merekapun menancap gas motornya.

Di rumah Maryam, Ical terlihat rapi dengan gayanya yang khas. Dari jauh sudah terlihat Ahmad dan Dani sudah tiba. Mereka pun bersalaman. Di rumah Maryam terlihat sangat ramai. Banyak anak mudah yang main kartu. Tapi sedikit yang di kenal. Itupun belum akrab.

Ahmad dengan gayanya yang santai, dia langsung memanggil Maryam. Lalu minta izin pada Ical selaku pacar baru Maryam.

“Ical… aku bicara dulu dengan Maryam. Oke kawan?”.

“Oke… silahkan. Tidak apa-apa kok”, jawab Ical dengan wajah yang terlihat lain.

Ahmad dan Maryam terlihat asyik dan di selingi camda tawa. Sementara Ical dengan gelisahnya mondar-mandir di teras rumah. Sesekali Ical menelpon. Entah apa yang dia telpon.

Di ruang tamu Ahmad bersama Maryam bernostalgia dengan masa lalunya. Mengenang masa pacarannya. Walau juga sekarang masih status pacaran. Namun tidak jelas. Karena Maryam sudah menerima Ical seminggu yang lalu.

“Mar… sebenarnya aku ke sini ingin memperjelas hubungan kita. Karena aku dengar kamu sudah jadian dengan Ical. Aku mau tau siapa yang kamu pilih”.

“Sebenarnya aku masih sangat cinta sama kamu kak. Tapi sikap kakak yang tidak memperhatikan aku sehingga aku mengira kakak udah tak cinta lagi sama aku. Kalau aku disuruh memilih… tak ada yang aku pilih”.

“Kenapa..??”.

“Andai kakak mau berjanji akan lebih memperhatikanku lagi. Maka aku lebih memilih kakak di banding dia”.

“Maaf dek… aku tak mampu terlalu perhatian sama kamu. Aku bukan tipe orang yang terlalu perhatian. Kamu minta aku seperti Ical, yang perhatian sekali sama kamu. Aku tak bisa. Karena masih banyak yang ingin aku kerjakan selain ingn bertemu kamu…kutak bisa membagi waktu dengan baik”.

“Sebenarnya aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku melihat Ical yang baru seminggu jadian. Aku tak sanggup memutuskan hubunganku dengannya. Nanti dia menganggap aku menjadikan dirinya sebagai pelampiasan saja. Kan tidak baik…”.

Hampir dua jam mereka berdua. Bercerita. Mencari jalan keluar. Sementara Ical terlihat sangat gelisah melihat pemandangan yang sedang terjadi. Bahkan Ical sudah menelpon teman-temannya untuk menghadang Ahmad dan Dani, kalau keputusan malam itu mengecewakannya.

Akhirnya Ahmad dan Maryam sepakat untuk pura-pura putus dan mengalah untuk Ical. Ahmad tau apa yang terbaik. Karena Maryam malamitu belum mau hubungannya berakhir dengan Ahmad, cinta pertamanya. Sedangkan Maryam juga tak sanggup memutuskan Ical. Dia takut terjadi apa-apa.

Ahmad sudah ingin pamit. Malam sudah terlampau larut. Dia memanggil Ical dan mengatakan padanya apa yang menjadi keputusannya. Lakasana transaksi jual beli. Tapi kali ini seorang perempuan yang jadi barangnya. Tanpa sadar Maryam dirinya hampir diperlakukan barang tak bernyawa.

Sudah lama Ical meminta Maryam untuk dijadikannya pacar. Tapi Ahmad hanya bilang ambil saja kalau dia mau sama kamu. Karena merasa tertantang, Akhirnya Ical bersungguh-sungguh. Akhirnya dia mendapatkannya. Walau sebenarnya Maryam tak mencintainya. Cinta Maryam hanya pada Ahmad, Cinta pertamanya. Dia mau karena terpaksa. Dipaksa dan diancam oleh Ical.

“Ical… malam ini aku titipkan Maryam sama kamu. Aku berharap kamu menjagnya. Mencintai dan menyanginya sepenuh hati. Jangan kamu mengotori cinta yang suci itu. Karena Maryam tidak mampu memilih siapa yang terbaik. Jadi aku memutuskan agar Maryam memilih kamu. Aku mengalah”.

“Baiklah kalau begitu aku berterima kasih sama kamu.karena rela melepaskannya demi aku. Aku juga mungkin perlu belajar banyak tentang hidup sama kamu. Kamu mengajariku banyak hal tentang hidup ini. Terima kasih kawan”. Tutur Ical agakmemuji. Walau dalam hatinya dendam dan merasa tidak enak.

“Kalau begitu aku permisi dulu. Ayo semuanya. Aku pulang dulu ya..”.

Seminggu sudah Ahmad dan Maryam memutuskan untuk pura-pura putus. Ahmad melihat Maryam menikmati hari-hari itu. Ahmad akhirnya memutuskan untuk mengirimkan sepucuk surat untuk Maryam. Surat itu berisi kata maaf dan terimakasih. Serta kata putus hubungan Ahmad dengan Maryam.

Maryam membaca surat itu. Kaget dan sedih. Dia tak menyangka segitu cepat itu datang. Dia belum siap. Butiran air mulai menggulung dari pelupuk matanya. Menyesal karena dia merasa tlah menghianati kata hatinya. Dia salah pilih. Lalu dia teringat kata-kata Ahmad. “Setiap pilihan pasti ada konsekwensinya”(***)

READ MORE - Malam Transaksi Pacar

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Ketika seligkuh menjadi Kehormatan

Ketika Selingkuh Menjadi Kehormatan

Di tengah hamparan sawah nan indah dan luas. Di antara tatapan padi yang mulai menguning. Luapan kebahagian dua anak sedang menjadi lampu penerang. Menerangi seluruh aktivitas makhluk yang lewat di sana. Kenangan itu tertulis dalam buku sejarah kehidupan dua hati insan. Mereka tak mampu menghapusnya. Kenangan itu seakan menjadi bagian dari anggota badannya.

Pagi itu, Husen melamun di atas sofanya. Dia masih teringat masa kanak-kanaknya. Seorang perempuan cantik dan polos. Perempuan itu jauh dari matanya. Perempuan itu menjadi sumber inspirasinya. Namun kini Husen sudah menempuh jalan yang lain.

Sementara Humairah belum juga mendapatkan pasangannya. Dia sudah berumur hampir tiga puluh. Tapi dia masih cantik. Kulit wajahnya belum ada yang berkerut. Belum ada tanda-tanda ketuaan. Dia masih seperti gadis sembilan belasan tahun. Husen mengingat masa lalunya. Masa kanak-kanaknya dulu di kampung bersama Humaerah. Bermain bersama anak-anak yang lain.

Sudah hampir sepuluh tahun Husen menjalani hidup bersama istrinya, Fatimah. Namun mereka belum juga dikaruniai keturunan. Sesuai kesepakan dengan istrinya. Husen boleh menikah lagi jika genap sepuluh tahun belum juga ada hasil.

Fatimah adalah sosok perempuan yang sholehah. Dia rela dimadu. Dia tahan uji. Tahan mental. Rela menanggung penderitaan jika itu adalah kebahagiaan keluarganya. Termasuk suaminya. Meskipun harus berbagi.

Cekcok dalam keluarga Husen hampir tak ada yang berarti. Keluarganya boleh dibilang kelurga sakinah. Mereka adalah orang yang taat beribadah. Taat pada agama. Tiap minggunya mereka rutin mengikuti pengajian. Mereka paham betul agama dan sekaligus mengaplikasikannya.

Humaerah belum juga diketahui Husen. Dia entah di mana. Husen tidak tau karena sudah lama dia meniggalkan kampung halamannya. Dia merantau Humaerah merantau kemana. Juga tak ada kabar yang sampai padanya.
* * *
Sepuluh tahun sudah. Usia pernikahan Husen dengan Fatimah belum juga ada tanda-tanda. Perut belum juga buncit. Masih tetap kempes. Masih seperti dulu.

Dalam kamarnya, Fatimah terseduh-seduh. Meneteskan air matanya. Dia amat sedih. Dia memikirkan kesepakatannya dulu. Huesn boleh menikah setelah usia pernikahan genap sepuluh.

“Kenapa kamu menangis? Emang ada masalah apa. Kok sedih begitu?,” Husen menyapanya dengan lembut. Lalu Husen mencium dahi itrinya.

“Kang… ingatkah kesepakatan kita dulu? Waktu pernikahan kita berumur dua tahun,” sambil memandang suaminya.

“Tidak. Emang perjanjian apa?.”
“Akang boleh menikah lagi……”.

Fatimah memang perempuan sholehah. Jilbabnya yang agak besar menjadi hiasan wajahnya yang cantik. Andai istri lain yang kurang bagus agamanya, maka dia tidak akan terus-terang pada suaminya. Tentang kesepakatan itu dulu. Tapi fatimah takut berbohong. Apalagi pada suaminya. Dia perempuan yang taat pada suami.

“Sayang…” sambil merangkul istrinya. “Walau nanti ada takdir untuk memadu. Aku akan berusaha untuk adil. Tetap menyayangimu seperti dulu.”
“Mudah-mudahan kang…”

Beberapa bulan Husen sering melamun. Dia sedih karena belum juga benih yang tumbuh dalam perut istrinya. Dia sering berfikir untuk mencari istri yang mampu memberinya anak. Namun dia juga masih sulit menghianati istrinya. Dia takutFatimah sakit hati.

“Dalam Islam kang dibolehkan poligami selama itu bukan atas dasar hawa nafsu dan kepuasan. Kalau niatnya baik tidak apa-apa. Apalagi kemandulan bisa dijadikan alasan untuk cerai. Tapi saya tidak ingin ceraikan istriku. Aku Cuma mau menambahnya. Bukan menceraikan.” Beitulah gejolak dalam hati Husen memikirkan rumah tangganya.

“mudah-mudahan istriku tidak kecewa. Atau sakit hati. Semoga….”

* * *
Malam itu, Husen pamit pada istrinya untuk keluar jalan-jalan. Sekedar menghirup udara segar. Dia merasa nyaman malam itu. Seakan ada firasat baik untuknya. Dia singgah di sebuah tempat perbelanjaan.

Terbayang di pelupuk matanya. Orang itu lewat di hadapannya. Tanpa sengaja Husen memandang kearah perempuan bejilbab itu. Dia langsung teringat masa lalunya. Masa kanak-kanaknya. Dia teringat wajah orang pernah mengisi ruang hidupnya sewaktu tak tau apa-apa.

Husen mengikutinya. Seakan Rama mengejar Shinta. Perempuan itu makin jelas di ingatan Husen. Dia makin yakin kalau itu perempuan yang lama dia cari, Humaerah. Gadis sholehah teman sepermainannya.

Husen langsung menyapanya. Perempuan itu langsung kaget. Tapi dia juga seakan teringat wajah lelaki itu. Tapi siapa ya? Begitu dalam hatinya.

Mereka bercengkrama. Akhirnya mereka saling kenal. Bernostalgia bersama. Husen mengajaknya makan malam di restoran yang ada dalam Mall itu.

“Dari mana saja kamu…?” Husen memulai pembicaraan.
“Saya baru pulang dari Madinah.”
“Oiya..? untuk apa kamu di sana?”.

“Memperdalam pengetahuan agama. Saya sekarang berniat kembali membangun kampung halaman sendiri. Kebetulan aku diutus sekolahku dulu.”

Husen mengungkapkan kebahagiaanya. Karena bisa bertemu setelah puluhan tahun berpisah. Humaerah pun juga sama. Dia juga merasa teringat masa kecilnya. Waktu Husen tinggal bersama neneknya di kampung. Tapi setelah besar. Husen meninggalkan kampung dan tak pernah lagi mengunjungi neneknya. Itu karena kesibukannya mengurusi perusahaannya di kota. Sehingga tak pernah juga ada waktu mencari keberadaan Humaerah. Dia sudah lupa beberapa tahun terakhir. Namun tiba-tiba saja teringat padanya.

Humaerah terlihat kurus. Sepertinya ada sesuatu yang terpendam dalam hatinya. Entah ada perasaan lain dari yang lain. Ada getaran. Ada signal dalam hati mereka. Dua insan yang baru bertemu.

Cinta memang bukanlah buatan. Dia timbul dan tumbuh dengan sendirinya. Dia hanya mampu dirasakan tanpa dapat dipahami. Seperti apa itu cinta.

Beberapa hari kemudian. Humaerah terjatuh sakit. Husen mendengar kabar itu. Humaerah yang tinggal di rumah kotrakannya masih sangat sulit untuk membiayai rumah sakit. Sakitnya tambah parah. dia harus dibawa ke rumah sakit. Tapi biaya dari mana? Seru hati teman kotrakannya.
Husen menyempatkan menjenguk Humaerah. Dia prihatin melihat keadaannya. Lalu dia membawanya ke rumah sakit. Menanggung biayanya. Walau Humaerah sangat berat menerima itu. Tapi itu keadaan terpaksa.

Setelah setengah bulan Humaerah mengalami perawatan. Dia mulai membaik. Kesehatnnya mulai pulih. Dia sering dijenguk Husen. Tiap pulang kantor. Husen singgah di situ.

Seusai pulang dari rmah sakit. Husen menjelaskan kepada istrinya bahwa dia berniat menikah lagi. Seorang perempuan yang dikenalnya sejak dulu, masih di kampung. Husen memilih kata-kata yang dianggapnya paling tepat. Dia takut istrinya sakit hati kalau salah kata.

Dengan penuh kepasrahan, istrinya merelakan itu. Antara sakit dan bahagia. Fatimah sakit karena harus melawan naluri kepermpuanannya. Bahagia karena dapat membahagiakan suaminya.(***)
Ditulis di Gowa, 17 Januari 2009
READ MORE - Ketika seligkuh menjadi Kehormatan

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Tukang Becak Harus Sarjana

Tukang Becak Harus Sarjana


Sedih bercampur bahagia. Tertawa dan terkadang menangis. Pikiran selalu kacau hanya sesekali dalam kondisi stabil. Antara bahagia dan sensara. Tiap saat, tiap detik hanya ada dalam keragu-raguan. Di atas becak tuanya, Daeng Gassing merenung meratapi nasibnya. Tanpa sadar, tiba-tiba Daeng Gassing mengusap-usap kepalanya lalu membuka diskusi dengan teman-temannya. Pagi itu, di tempat mangkalnya. Di atas becaknya masing-masing terjadi perdebatan hangat diantara mereka. Para tukang becak itu ternyata juga sangat respon terhadap pesta demokrasi yang akan diadakan di Kota itu.

Bagaimana pendapatmu tentang pemilihan walikotayya?”, Tanya Daeng Gassing membuka pembicaan.

Maksudnya Daeng Gassing!?”, Daeng Tompo kembali bertanya dengan nada kurang mengerti.

Maksudku siapa calon ta’ yang kita dukung”.

Tapi katte duluan. Inai katte?

Pembicaraan mereka berlanjut dan saling menyebut nama calon mereka masing-masing. Mereka lalu saling menjatuhkan. Saling mencemooh.

Apaji itu calonmu… apa tonji programnya..!! paling dia hanya cari uang dan mengejar kedudukan. Ero’naji nikana”. Daeng Tompo mulai merendahkan calonnya Daeng Gassing.

Janganki’ bilang begitu dulu… nanti tompi dilihat. Lagian dia tidak ada cacat di masyarakat. Tidak pernah korupsi”. Daeng Gassing membela.

Temannya yang lain mulai membuka mulut. Dia pun bertanya. “Janganki’ bilang begitu tawwa. Calonta iyya, apa programna yang dia andalkan?”.

Menurunkan harga makanan pokok dan barang-barang daganganka. Membasmi koruptor. Dan gratismi pendidikan juga kesehatanka

Iyyo… tapi janganki’ mau diperdaya janji-janji politikus. Lebih banyak bohongnya. Tidak bisa dipercaya”.

Untungji kalau na ingatji kalau terpilihmi. Biasanya alasannaji jai. Tidak ada bukti”. Sahut temannya yang lain.

Sekarang buttia parallu”.

Tempat mangkal mereka bertambah seru dengan diskusi tentang calon walikota dan wakil walikota kebanggaan dan pilihan mereka masing-masing. Mereka sudah tidak sadar penumpang telah banyak lewat. Ditawari oleh penumpang pun mereka tidak sadar. Mereka seakang-akang sudah tidak butuh duit. Padahal masih pagi. Mereka hanya sibuk bertengkar mulut. Saling mengunggulkan calon kebanggaannya. Saling menjatuhkan satu sama lain. Mereka seakan terlihat seperti mahasiswa berdebat masalah ideology. Laksana ulama berdiskusi persoalan khilafiyah. Bagai pejabat sedang sidang membahas rancangan undang-undang. Mereka tidak mau kalah. Mereka mau hanya dia yang terbaik dan paling benar. Hanya calonnyalah yang mampu melakukan perubahan. Mensejahterahkan. Membuat hidup lebih baik.

Suasana tambah panas. Adu mulut makin seru. Mata memerah. Mulut makin komat kamit. Tanpa sadar, Daeng Tompo memegang kayu kecil lalu melempar Daeng Gassing. Seketika itu juga sadar. Mereka baru sadar mereka terlalu jauh mengurusi yang seharusnya bukan urusannya.


Gowa, 13 Oktober 2008


READ MORE - Tukang Becak Harus Sarjana

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Ketika Cinta Berpolitik

Ketika Cinta Berpolitik


Di tengah riukan mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Di tengah-tengah kebisingan kendaraan yang lalu-lalang. Di antara gempalan asap ban. Debu menari-nari kesana-kemari. Debu itu seakan ikut merasakan kebahagiaan dua insan yang sedang memadu kasih. Walau bagi pengguna jalan, debu dan asap itu sangat mengganggu. Namun dua hati itu seakan tidak merasakan kehadairan debu-debu itu.

Di bawah pohon nan rindang. Adim tengan berada dalam hayalan di tengan lautan luas nan indah. Siang itu, Adim merasakan kebahagiaan yang sudah lama ia nantikan. Kini terjawab sudah. Cinta yang telah enam bulan tertunda. Saat ini, Adim tengan berada di sisi orang yang sangat ia sayangi, Nur. Debu tak menjadi penghalang. Riukan demonstran tak berarti baginya. Yang ada dalam hatinya hanyalah kehangatan dan ketenangan jiwa. Bagi Adim, keberadaan Nur di sisinya adalah ketenangan yang tiada tara.

Adim adalah orang yang aktif menyuarakan aspirasi masyarakat dan mahasiswa. Ia seorang demonstran ulung. Namun siang itu, ia bertekad meninggalkan itu demi Nur. Ia ingin bertemu dengannya untuk mendenganr jawaban yang sudah lama ditunggu.

Walau selama ini Nur tidak suka orang yang selalu teriak di jalan. Salah satu faktor samapai Adim harus menunggu jawaban satu semester. Enam bulan. Juga karena itu. Karena Adim adalah seorang parlemen jalanan. Namun entah malaikat apa yang sedang merasuki jiwa Nur. Sehingga Nur berbaik hati menerimanya.

Nur dengan jilbabnya yang panjang sampai ke dada. Melirik sedikit ragu kepada Adim. Wajahnya Yang Putih Bersih. Kini memerah oleh sengatan mentari. Adim terlihat senyum pertanda bahagia dan terima kasihnya. Dengan bibir Nur yang merah alami tanpa lipstik itu. Suaranya yang khas penuh kelembutan lalu beucap.

Kenapa kamu tidak ikut aksi sekarang? Baru kali ini saya melihat aksi kali ini tidak dihadiri seorang orator jalanan”, tanya Nur dengan nada menyinggung.

Adim pun merasa bahwa yang disinggung adalah dirinya. “Kali ini saya tidak ikut karena kamu”, jawabnya.

Karena aku??”.

Iya… karena kamu. Kenapa?”.

Kamu kurang komitmen. Kok gara-gara seorang perempuan kamu rela meninggalkan sesuatu yang lebih urgen. Kepentingan pribadimu lebih kau dahulukan dibanding kepentingan umum. Kepentingan masyarakat”.

Iya, saya ngerti. Tapi aksi itu bukan aksi itu, buka aksi yang menyuarakan aspirasi masyarakat. Tapi itu aksi solidaritas. Mereka menuntut kasus pelecehan seksual oleh oknum TNI. Saya rasa tanpa aksipun pemerintah akan menindak tegas oknum tersebut”.

Tapi bukankah itu hal yang penting. Karena itu masalah moral. Mahasiswa kan dikenal sebagai moral force”.

Setelah lama berdebat. Lalu mereka pun berpisah. Namun perdebatan itu berakhir dengan senyum kebahagiaan. Perdebatan yang diwarnai dengan suasana cinta penuh kasih.

Nur memang senang berdebat. Ia sering menjadi ketua di banyak organisasi. Dia juga punya massa pendukung sekiranya ada hasrat ikut berkomptisis dalam pesta demokrasi mahasiswa nanti.

* * *

Enam bulan berlalu sudah. Kini hubungan Adim dan Nur makin akrab. Mereka saling mencintai tidak seperti orang kebanyakan. Mereka tidak suka ke pantai berdua. Kalau mereka bertemu, yang menjadi pokok pembicaraan buka masalah perasaan. Apa lagi kata-kata mesra. Rayuan gombal yang mengundang gejolak nafsu. Mereka hanya memanfaatkan diskusi dengan masalah kehidupan, keilmuan dan masalah intelektualitas. Walau sesekali juga berbicara masa depan mereka kelak.

Bulan ini, pesta demokrasi akan segera digelar. Pemilma di kampus mereka telah dekat. Adim diusung teman-temannya. Ia dicalonkan menjadi kandidat presiden mahassiswa. BEM-U.

Adim mengingat, Nur punya massa pendukung. Namun Nur dan Adim memiliki latar belakang organisasi berbeda. Organisasi mereka selalu bersebrangan. Tak pernah bersatu. Organisasi ekstra mereka tak pernah ingin bekerja sama. Mereka berbeda ideologi. Nur yang menjadi ketua di organisasinya tak mampu berbuat banyak. Teman-teman Nur harus mengusung kandidat juga. Mereka tidak mau kalah dengan kelompok Adim. Walau teman Nur tau kalau Adim kekasih Nur.

Dua pembesar dari organisasi itu terikat dengan tali cinta yang telah lama mengikat. Adim berusaha untuk merebut massa dari Nur dengan senjata cintanya. Lalu Adim pun menemui nur di kostnya. Ia minta Nur agar dibantu untuk pemenangannya. Lewat organisasi yang Nur geluti. Walau Adim tau kalau Nur tak bisa terang-terangan. Karena bisa memicu konflik besar yang berujung pada ancaman nyawa.

Nur berkata akan berusaha semaksimal mungkin. Ia meyakinkan akan kemenangan berada di pihat Adim. Namun Nur berpesan.

Saya tidak ingin hubungan ini hancur berantakan karena perbedaan organisasi. Ideologi organisasi sedikit berbeda. Pada hakekatnya tujuan kita sama. Menuju kejayaan ummat”.

Pemilma pun digelar. Dengan kecerdikan dan kecerdasan Nur, ia mampu merebut suara sekitar tiga puluh persen dari organisasi yang menjadi rival Adim. Ia berhasil menyulap teman-temannya menjadi senang pada Adim. Nur mampu menyumbang suara sekitar lima puluh persen dari banyak organisasinya. Akhirnya adim memenangkan pertarungan itu.

Adim berhasil mengalahkan rivalnya. Mampu merebut kursi kepresidenan. Dengan kekuatan cinta dan strategi yang mengakar mampu menumbang pohon yang berdiri tegak dan kokoh.

Usai Pemilma, Adim menemui Nur di kostnya. Ia membawa kado sebagai tanda terima kasihnya.

Satu tahun kemudian, mereka melanjutkan hubungannya sampai pada tahap pernikahan. Walau mereka masih kuliah dan masih menjabat sebagai ketua BEM-U. mereka hidup tentram dalam rumah yang sejuk dan sederhana. Dihiasi suasana cinta yang tulus dan murni. Penuh damai dan bahagia.(***)

READ MORE - Ketika Cinta Berpolitik

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati