Kutemukan Diriku di Bawah Atap Nipa

Udara makin pengap. Terik mentari taj jua reda. Makin panas. Seakan kamar kost Agi berubah kejam. Mengusir pemiliknya. Dipandangnya langit-langit kamar yang dihiasi sebuah kipas angin mini. Kipas yang diharapkan memberikan kesejukan, malah mengeluarkan udara panas. Gerah rasanya tinggal di sana. Kamar dan seisinya bagai mengusir penghuninya. Keluarlah mencari angin sejuk nan segar! Yang dapat membuka mata hatimu.
Sementara Agi tak jua mengerti dengan suasana itu. Masih saja tinggal. Membaca sesekali merebahkan diri sambil menikmati udara pengap itu. Dia memang ingin menikmati keadaan rakyat kecil. Karena di rumahnya dia hidup bagi di istana dan perlakuan bagai pangeran. Dia anak seorang terkaya di Makassar. Bosan hidup mewah.
Agi sesekali memandang langit-langit kamarnya yang hanya berukuran tiga kali empat. Cukup mewah bila dibandingkan dengan anak kost-kost-an lain. Di sanalah dia menjalanai hidupnya. Makan, minum. Tidur dan belajar.
Semasa kecilnya, dia tak pernah kenal dengan masyarakat bawah. Yang ada hanya kemewahan. Olehnya itu, dia minta pada ayahandanya untuk tinggal kost selama kuliah. Agi berharap agar dia mampu mengenal dirinya dengan baik. Masyarakat luas terutama.
Pagi itu, Agi sampai ke kampus. Baru selangkah menginjak kampus, dia bertemu teman lamanya, Ipa.
“Hey sebentar sore ada acara kamu tidak? Kalau tidak, ikut sama aku aja. Ada acaraku”, Ipa mengajak.
“Iya sudah kalau gitu. Sebentar aku pasti ikut. Sekedar coba-coba. Cari pengalaman and teman…”.
Agi pun ikut. Tapi dia merasa tidak tertarik dengan acara seperti itu. Terkesan sekedar formalitas belaka. Tak ada yang bisa di banggakan.
Agi lalu kembali merebahkan diri di kamarnya. Beberapa menit kemudian, teman sekelasnya menelpon.
“Apa kabar kawan? Bisa tidak ke kampus sekarang. Ada acara…”, Wandi, temannya memanggil dibalik telpon.
Tanpa berfikir panjang, Agi mengambil scooternya. Segera meluncur ke kampusnya. Maklum mahasiswa baru yang sarat dengan penasaran. Ingin mencoba semua. Siapa yang panggil, dia pun ikut. Dia ingin menyamakan apa yang tergambar di imajinasinya dengan kejadian sesungguhnya.
Ditemukannya di sana, perdebatan panjang. Ternyata kajian ketuhanan. Dia pun ikut. Merasa bingung. Dia pun bertanya.
“Kalau Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Lalu Tuhan sebenarnya ada di mana? Kalau ada di arsy atau meliputi langit dan bumi, berarti Tuhan terikat dengan ruang dan waktu dong. Berarti bukan lagi Tuhan seperti yang dikatakan tadi…”, Bantah Agi. Akalnya tidak mampu samapi ke sana.
Sampai pagi mereka hanya memperdebatkan ketuhanan. Agi lalu pulang dengan keadaan sempoyongan. Ngantuk campur lelah. Dirasakannya ada yang kurang dalam kajian itu. Aspek kebutuhan jasmani. Otak diisi. Namun jasmani dikorbankan. Jiwanya pun memberontak.
Paginya, Agi mendapati temannya teriak di tengah jalan. Dihiasi dengan asap yang mengepul dan klakson kendaran yang macet total. Terdengar mereka menuntut penurunan harga BBM. Agi lalu mencaba lagi. Bergabung dan teriak beberapa menit. Dia terobsesi dengan retorika seniornya. Jiwanya terbakar untuk ikut.
Usai orasi, Agi bernaung dibawah pohon ketapan. Merenung sembari memandang kendaraan yang berhenti. Jiwanya koyak. Berkoar dan memberontak. Seakan merasa kasian pada rakyat yang sedang terhalangi. Haknya yang diteriakkan, namun mereka jadi korban jua.
Pagi yang cerah. Secerah mentari di ufuk timur. Hari libur yang bersahabat dengan cuaca. Agi menggunanakan liburnya dengan jalan menusuri lorong-lorong tikus di antara bagunan mewah bercampur kumuh. Hidup berdampingan.
Sudah beberapa hari dia jalan kaki untuk melihat keadaan di sekitarnya. Namun kali ini dia menemukan keunikan dan ketertarika tersendiri. Agi melihat nenek tua. Lahir sekitar tahun empat puluhan yang lalu. Pada masa penjajahan.
Agi merasa tertarik dengan keadaan nenek itu. Lalu Agi masuk ke gubuk kumuh itu. Tempat wanita yang hanya tinggal sebatang kara. Gubuk yang beratapkan daun nipa.
“Nenek tinggal dengan siapa? Dan hidup dari mana?”. Agi memulai pembicaraan.
“Nenek hanya tinggal sendiri nak. Pernah punya anak laki-laki, namun dia pun entah ke mana. Sejak dia ke Malaysia menjadi TKI, nenek tak pernah mendengar kabarnya lagi. Hanya ada kabar angina bahwa dia sudah meninggal. Nenek tidak tau entah sebab apa dia meninggal. Tak ada kabar jelas”. Nenek itu bercerita panjang lebar sambil mengusap-usap matanya. Air matanya menetes.
“Lalu nek.. apa yang dikerja tiap hari?”.
“Nenek hanya mengumpulkan kaleng-kaleng bekas untuk menyambung hidup. Biasa ada paginya tak ada siang. Begitulah seterusnya. Namun sesekali nenek dapat sedekah dari tetangga”.
“Apa nenek tidak merasa kesepian?”. Agi makin ingin tau lebih jauh. Kelihatannya nenek itu terlihat bijak menjalani hidupnya.
“Terkadang kesepian. Tapi itu hal wajar. Nenek merasa bahagia karena masih bisa bertahan hidup. Dibanding dengan orang kaya yang tidak tahan hidup. Dan akhirnya bunuh diri. Nenek mungkin lebih bahagia dari sebagian orang kaya. Yang tidak bisa mengatur hartanya. Nenek merasakan segalanya dengan bermimpi. Bermimpi saja sudah cukup bahagia”. Nenek itu memandang Agi dengan tajam. Seakan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
“Nak… jika kelak kamu ditakdirkan menjadi orang besar, perhatikanlah rakyat kecil. Seringlah turun melihat keadaan mereka. Belajarlah dari sekarang untuk bersentuhan denagn kalangan bawah. Untuk merasakan penderitaan mereka. Turutlah diberbagai aksi-aksi social. Menghijaukan lingkungan dan ikut menjaga kebersihan”.
Agi pun pulang dengan sejuta tanda tanya bercampur rasa penasaran pada nenek itu. Dia mendapat renungan yang menarik. Petuah-petuah orang tua. Jiwanya terasa tenang. Entah kenapa, baru kali ini dia mengalami kenyamanan yang belum dirasakannya.
Agi merasa penasaran dengan nenek itu. Agi lalu mendatanginya. Ditemukannya selembar foto yang memakai seragam loreng. Terlihat cantik dan gagah. Mungkin nenek itu sewaktu muda. Pernah menjadi pejuang wanita untuk membela bangsa dan negeri ini. Kini nenek itu tak diperhatikan lagi oleh pemerintah. Menurut nenek itu, dia pernah dicatat sebagai pemberontak. Sehingga dia tak mendapat perlakuan yang sama dengan pejuang lain. Namun menurutnya, pernah memang memberontak namun dia hanya memeprjuangkan keadilan.
Lalu Agi pun kembali dan bertekad untuk aktif melakukan aksi-aksi kemanusianan. Seperti yang dikatakan nenek bijka itu. Dia menemukan jati dirinya lewat petuah-petuah nenek itu. (***)

Gowa, 27 April 2009
READ MORE - Kutemukan Diriku di Bawah Atap Nipa

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Nostalgia Sumbangan di Hari Kampanye

Langit tertutup awan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Terasa sejuk udara pagi itu. Terik mentari pun tak jua muncul. Seakan cuaca ingin menyampaikan pesan tersendiri bagi insan yang hendak bepergian. Pergilah dan nikmatilah perjalananmu!
Pagi itu, Hafid salah seorang Caleg tingkat dua bergegas meninggalkan kediamannya. Hendak ia ke rumah temannya, Iksan. Memperkuat ikatan kesepakatan sebelumnya. Menjadi perpanjangan tangannya di kampung itu. Tim sukses bisa dibilang.
“Ada di pos ronda main domino”.
Itulah jawaban orang-orang di kampung jika ada yang menanyakan keberadaan Hafid beberapa bulan terakhir. Seorang pengangguran memberanikan diri jadi Caleg. Dengan harapan mengubah nasibnya.
Hari-hari menjelang pesta demokrasi, Hafid terlihat sibuk dengan pakaian rapi. Pergi pagi pulang pagi. Sibuk sosialisasikan diri dan partainya. Iyah… maklum partai baru. Umurnya baru setahun. Terlalu muda untuk bersaing dengan partai lama. Namun bagi Hafid tak menjadi persoalan. Ia selalu optimis. Yang penting usaha dulu. Apalagi masyarakat selalu menyambut baik tiap ia datang ke setiap kampung.
“Bagaimana keadaan di sini?”, Hafid memulai pembicaraan sesampainya ia ke rumah Iksan.
“Persaingan ketat. Tapi sabar saja. Sudah ada kontrak politik dengan beberapa tokoh masyarakat di sekita sini”, Iksan mencoba memberi semangat pada temannya.
“Apa yang sudah dilakukan Caleg lain di kampung ini? Siapa tau saya juga bisa bantu”.
“Banyak yang membagi-bagikan sarung, baju, jilbab, bibit, herbisida dan macam-macam deh. Pokoknya banyak”.
Iksan cerita banyak dengan Hafid. Mulai bicara strategi merebut simpati dan suara masyarakat. Sampai bagaimana menjatuhkan lawan yang dianggap paling berpengaruh di kampung itu. Akhirnya mereka mendapat kesepakatan. Yaitu dengan memperbanyak sumbangan yang bisa dinikmati masyarakat banyak dan harus banyak uang untuk menyaingi Caleg lain.
“Bagaimana kalau kita sumbang saja lampu jalan. Berhubung karena sepanjang jalan ini masih sangat gelap di waktu malam. Lagi pula belum ada Caleg lain yang lebih dulu. Pasti masyarakat simpati”. Usul Iksan.
“Boleh juga. Tapi sekitar berapa kira-kira yang dibutuhkan?”, Hafid menyetujui
“Satu desa saja. Sekitar dua pulahan buah. Pokoknya saya yang bertanggung jawab untuk desa ini”, tutur Iksan.
“Bagus juga mungkin pak kalau kita sumbang juga mesjid. Kebetulan di mesjid kita ini baru dibangun. Belum ada uang untuk atapnya. Mungkin bisa seperduanya saja kalau bisa”, usul orang tua yang dari tadi tidak pernah menyahut.
Hafid menatap baling-baling kipas yang sedang berputar. Ia berpikir dengan usul orang tua tadi. Berpikir berapa dana yang dibutuhkan. Efektif tidak. Cukup tidak keungan yang ada sekarang.
“Minta dana saja di Caleg pusat”, pikir Hafid menemukan solusi.
“Baiklah… saya akan sumbang mesjid kita ini. Tapi dengan sayrat masyarakat di sini mau bersatu memilih saya”, Hafid menyatakan kesetujuannya.
Beberapa hari kemudian, teranglah kampung itu dengan sinar lampu jalan. Atap mesjid pun tiba. Tinggal dipasang. Masyarakat pun menikmati detik-detik Pemilu. Namun Caleg lainpun tak mau ketinggalan. Mereka tidak menyumbang tempat umum, tapi gerakannya langsung menyentuh dari rumah ke rumah. Memberikan sumbangan bersyarat pada siapa saja yang mau. Tapi hanya sedikit yang tidak mau.
Tiap rumah didatangi, selalu disambut baik. Dan mengatakan belum ada yang datang selain kamu. Lalu Hafid pun tambah optimis akan kemenangannya. Uangnya pun tak segan-segan keluar dari kantongnya.
Kini Pemilu segera tiba. Tinggal hitungan jam. Masyarakat di desa itu hampir tak dapat menikmati tidurnya. Lebih-lebih para panitia Pemilu. Turun Caleg yang satu, naik yang lainnya. Serangan fajar. Malam itu hampir tiap kampung seakang banjir uang. Sepuluh ribu. Dua pulu ribu, lima puluh ribu. Seratus. Bahkan ada yang membeli satu juta perkepala. Bukan main persaingan. Orang bilang, orang miskin dilarang jadi Caleg.
Sementara Hafid tak tidur jua. Keliling Dapilnya untuk mempererat ikatannya. Mendatangi seluruh tim suksesnya. Namun ia hanya mampu memberikan uang jalan khusus untuk timnya saja. Hafid tak punya peluru banyak. Uangnya habis untuk sumbangan. Sedikit sekali persiapan serangan fajarnya. Hampir tidak ada. Ia hanya berserah diri pada Tuhannya. Apa kehendaknya. Takdir telah tercatat.
Tak terasa mentari mulai muncul. Menyinari jagat raya. Para anggota KPPS pun sibuk. Wajib pilih pun mulai berdatangan. Saatnya panitia bereaksi. Mereka telah dibayar banyak oleh Caleg tertentu. Termasuk pemerintah setempat. Mereka telah sepakat menggolkan figure tertentu. Sumbanganpun tak teringat. Uang ratusan jutapun tak berarti. Panitialah yang banyak berperan. Mereka mengambil kesempatan bagi orang tua yang buta huruf. Memandu mereka. Belum lagi masyarakat diintimidasi. Diancam guna mengarahkan pada Caleg tertentu. Penggelembungan suara bukan hal yang sulit bagi panitia. Itulah banyak yang terjadi. Kerjasamannya terstruktur.
Seusai perhitungan. Hafid memantau suara yang berhasil ia dapat. Minim sekali. Tak ia sangka hasilnya akan seperti itu. Mengecewakan. Lalu Hafid pun kembali ke rumahnya. Hafid menerima pesan singkat dari berbagai timnya. Namun tak ada yang menggembirakan. Tak ada yang menang satu TPS pun.
Sehari kemudian, Hafid lalu memanggil Yusran, tetangganya yang punya mobil pic up. Menarik sumbangannya yang di masyarakat. Atap mesjid. Lampu jalan dan berbagai sumbangan lainnya disita.
“Dasar masyarakat. Semuanya penghianat. Perbuatan baik kita selama ini terkubur dengan uang sepuluh ribu. Sungguh masyarakat sudah berubah. Semua memikirkan dirinya sendiri. Tak ada lagi yang bisa dipercaya. Mereka tak dapat dibaca...”, gerutu Hafid sambil menghisap udara dalam-dalam.(***)
Special buat para Caleg yang gagal. Semoga menjadi bahan pembelajaran. Bukan malah stresszzz…
Gowa, April 2009
READ MORE - Nostalgia Sumbangan di Hari Kampanye

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sang Pencari Tuhan

Langit tampak cerah. Udara panas mulai nampak terasa. Sengatan panasnya matahari makin lama makin panas. Terlihat banyak orang yang lalu-lalang di depan gerbang kampus itu. Salah satu perguruan tinggi Islam ternama di Makassar.
Di sana-sini nampak wajah-wajah lugu nan polos. Seakan mereka bingung dengan suasana alam yang baru bagi mereka. Maklumlah baru pada tahap transisi. Dari dunia pelajar melangkah ke dunia mahasiswa. Sangat berbeda. Begitu kompleks. Di alam mahasiswalah mereka ditempa menjadi seorang yang harus mengedepankan logika tanpa mengesampingkan agama. Intelektualitas ditonjolkan dibanding hedonisme.
Masyarakat kampus yang begitu kompleks membuat Agus kebingungan. Tak tau arah. Ke mana kakak seniornya memanggil, ke sana ia melangkah. Apa yang diperintahkan, itu pula yang dilakukan. Sungguh penurut. Padahal semasa sekolah, dia adalah jawara sekolah. Preman yang ditakuti dan disegani sesamanya siswa. Selain kuat dan nakal, dia juga cerdas dan pintar. Dia juga seorang mantan santri. Dia masuk pesantren saat tamat sekolah dasar. Namun Cuma tiga tahun. Sempat tamat madrasah Tsanawiyah. Lalu melanjutkan ke sekolah umum.
Agus semasa di madrasah, dia hafal hadits ARBAIN separuh. Dia mendownload filenya di internet. Maklum dia anak orang kaya. Dia kuasai komputer. Bisa didownload filenya di sini.
Pagi itu, Agus dengan sikap lugunya bertekad ingin bermanfaat bagi sesamanya. Terlepas caranya nanti seperti apa. Yang jelasnya dia tidak mau menjadi mahasiswa penganut hedonisme. Harus menjadi mahasiswa akademis organisatoris. Walau rada-rada sulit dicapai. Tapi itulah kesimpulannya. Dari sekian banyak cerita dari seniornya. Akhirnya berkesimpulan untuk menjadi akademis dan sekaligus aktif organisasi.
“Dek… kamu itu jangan Cuma kuliah saja kamu kerja. Nanti kamu jadi mahasiswa 3K”. jelas salah satu seniornya.
“Apa itu kak?”.
“Kost, Kampus, Kampung. Na kalau kamu begitu apa yang akan kamu dapat. Pengetahuan itu didapatkan tujuh puluh lima persen di luar kampus. Hanya dua puluh lima persen yang kamu dapat dari kuliah. Coba kamu pikir! Dosen Cuma masuk duduk lalu ceramah dan memberi tugas. Sudah itu keluar. Selesai…! Untung kalau ada yang tinggal di otakmu. Iya kan? Makanya ikut organisasi dong. Kajian bersama teman-teman. Kan enak. Ikut saja pada organisasiku. Pokoknya kita kajian”.
Seniornya panjang lebar menstimulus dan ujung-ujungnya mengajak ikut pada golongannya. Senior itu berhasi meramu pikirannya. Agus tertarik. Lalu dia pun ikut dikader. Perdebatan sengit antara pemateri dan peserta yang semuanya mahasiswa baru berlangsung heboh.
Dalam kajian itu mereka mencari kebenaran dari agama yang mereka anut. Pemateri berperan sebagai orang kristen mempertahankan dan memaki-maki Islam habis-habisan. Dialog itu seputar kebenaran tirmitas dalam dogam umat kristiani.
Mendengar hal itu, semua peserta membantah dengan segala argumentasinya. Agus pun tak mau kalah. Sebagai umat Islam, dia tak rela agamanya dianggap sesat. Dia pun mengambil referensi dari yang pernah dibacanya. Baca di sini
Pemateri itu sempat terkagum-kagum dengan segala argumentasi Agus yang dikeluarkan. Tapi pemateri pun tak mau kalah. Dia selalu membawa lari dari masalah jika argumentasinya terbantahkan. Biasa… senior tak mau kalah. Malu..
Mulai malam itulah, Agus ditambah penasaran oleh materi-materi yang mengandalkan argumentasi yang logis. Dia mulai menjajaki segala ruang untuk mencari referensi untuk memperkuat argumentasinya. Memperbanyak dan memperluas wawasan berfikir(***)
READ MORE - Sang Pencari Tuhan

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Hanya Mimpi yang Ku Mampu

“Cara aku merasakan segalanya adalah dengan bermimpi”. Ungkapan itu ditulisnya besar-besar di dinding gubuknya. Itulah cara Ahmad menjalani hidupnya tiap hari. Tukang sampah yang angan-angannya selalu mengawan. Dia selalu menikmati hidupnya dengan bermimpi. Lelaki yang telah menjalani hidup dua puluh lima tahunan itu tak pernah batinnya menderita. Dia selalu merasakan apa yang mungkin dirasakan orang yang mapan secara ekonomi. Bahkan lebih dari mereka.
“Andai bermimpi harus dibatasi. Maka mungkin akulah orang yang pertama mengangkat tangan dan mengusung dada untuk melawan kebijakan itu. Siapaun itu, termasuk Tuhan. Akan aku lawan jika dia melarang aku tuk bermimpi”. Begitu batinnya berbisik.
Ahmad yang kesehariannya menjajaki tumpukan sampah, tak pernah batinnya tersiksa dengan kehidupannya yang jauh dari layak itu. Dia lelaki tegar menjalani hidup yang sangat kejam ini. Tak salah jika dia menyebutnya hidup ini sebagai pilihan.
Menurutnya hidup itu terlalu indah. Tak kalah indah dengan surga yang kenikmatannya tak terbayangkan. Hidup itu hanyalah kepiawaian memilih. Jika manusia memilih hidupnya sensara, maka itulah yang dijalani. Namun jika hidup itu dipandang sebagai taman surga, maka itulah yang dirasakan. Manusia hanya dituntut untuk melawan penderitaan. Perasaan tidak puas. Dan segala penyakit hati yang terlalu banyak manusia menjadi korban.
Hidup itu indah. Hidup mudah. Hanya saja menjalani hidup itu terkadang pahit. Mempertahankan hidup terkadang susah. Namun di situ manusia ditantang Tuhan. Karena hidup tak kan pernah dirasakan indah tanpa tantangan. Tak ada mudah tanpa kesusahan. Manusia dituntut mana yang mampu dirasakan.
Ahmad terus saja merenungi kehidupannya. Hidup orang lain. dan terkadang menertawakan dirinya sendiri. Juga terkadang heran dengan orang yang hidup serba berkecukupan namun mengeluh belum bahagia. Belum merasakan indahnya hidup. Dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang tukan sampah namun selalu merasakan keindahan hidup dan kebahagiaan.
Bagi Ahmad cukup ada yang dimakan untuk menyambung hidup. Soal kemewahan itu hanyalah sesaat. Mencari kemewahan yang terlalu hanya membuat batun tersiksa. Terlalu sibuk dengan urusan keduniaan. Ahmad takut jangna sampai urusan dunia membuatnya ingkar pada Tuhan-Nya.
Seringkali Ahmad heran dengan pejabat yang kerjanya Cuma numpukin harta. Ngorup uang rakyat. Yang gencar mengkampanyekan kebenaran. Anti korupsi. Perjudian. Narkoba dan sikap asusila lainnya. Malah mereka yang melakukannya.
“Benar-benar negeri ini negeri aneh. Republik gila. Lebih baik aku bermimpi saja untuk mendapat seluruh kebahagiaan yang dicari semua orang. Untung aku masih dapat bermimpi. Kalau tidak, maka mungkin akulah orang yang paling menderita. Karena tanpa harta dan tanpa pendidikan. Tak ada bekal sama sekali…….”(***)
READ MORE - Hanya Mimpi yang Ku Mampu

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Andai Kau Tau...

Andai Kau Tau

“Ical… Andai kau tau apa yang kualami saat ini, pastilah kamu merasakan betapa menderitanya batin ini… namun kau tak pernah merasakan apa yang kuderita. Getaran cintaku tak pernah kau rasakan. Kau tak pernah mengerti nasib diriku yang kian layu. Bunga hidupku tak pernah mekar lagi karena siraman air mata kasih sayangmu tak pernah kau curahkan. Mengapa kau memperlakukanku seperti itu?? Mengapa…??”.
Penderitaan Inha hanya mampu dituliskannya pada beberapa helai kertas. Kertas yang selalu setia menemaninya saat senang dan susah. Tak pernah lelah dalam melayani majikannya. Selalu merasakan apa yang majikannya sedang alami.
Di atas buku hariannya, Inha tak bosannya mengadu dan berbagi. Seakan hanya itu miliknya. Yang lain telah membencinya. Tak ada lagi cinta dari yang lain. uluran tangan pun tak pernah muncul. Entah kemana semua.
Di sudut kamarnya Inha merenungi nasib hidupnya. Seakan hidupnya adalah neraka. Sangat menderita. Perasaan seorang perempuan yang selembut sutra itu tak mampu menahan goresan. Cinta yang ditaburkan pada seorang lelaki tak mendapat respon yang diharapkannya. Sungguh menderita.
Kini, tinggal kesepian yang menyelimuti dirinya. Buku harian menjadi teman curhatnya. Karena hanya itu yang dianggapnya baik hati. Cucuran air mata membasahi pelupuk matanya. Seakan air bah yang keluar dari mata air bencana. Bagai air yang sedang meluap. Mengalir deras. Sampai-sampai kapal Nabi Nuh pun tenggelam. Titanic roboh oleh luapan air mata kesedihan.
Andai saja Inha bukan orang beragama. Kecerdasan spiritualnya tidak ada. Maka dia akan mati terbunuh penderitaan. Bunuh diri. Dan paling tidak akan mengalami gangguang kejiwaan.
“Ah… hidup ini sungguh kejam. Aku harus bisa melawannya. Tak peduli dengan siapapun. Kutak mau lagi mengenal cinta kepada lelaki. Mereka kejam. Sungguh kejam”.
Dilanjutkannya tulisan itu. Tetesan air mata itu terus saja mengalir deras membasahi pipinya. Kertas diarinya hampir tenggelam oleh air mata.
* * *
Pagi itu dia bangkit dari tidurnya. Jam dinding kamarnya masih menunjuk pukul 04.03. dia segera bergegas ke kamar kecil. Dibersihkannya segala kotoran yang masih menempel di wajahnya. Dia mengambil air wudhu. Entah dia shalat apa. Tapi subuh itu dia shalat dua rakaat. Lalu usai shalat, dia lalu mengangkat kedua tangannya. Sembari berdoa. Dalam doanya dia meminta untuk dilapangkan dadanya untuk menghadapi segala cobaan.
Hidup ini terlalu kejam. Sehingga orang lemah menjadi tersisihkan. Mereka akan binasa oleh seleksi alam. Hanya orang-orang yang kuat dan tegarlah yang mampu bertahan hidup. Bagai makhluk lain pun begitu.
Usai shalat subuh, dia meraih kembali buku harinnya. Ditulisnya di halaman paling depannya; AKU HARUS KUAT. AKU TAK MAU MENGENAL CINTA KEPADA LELAKI LAGI SEBELUM AKU MENIKAH. AWAS KAMU MAKHLUK YANG BERNAMA LAKI-LAKI….(***)



Download Buku-Buku Islam & Komputer. Mudah-mudahan Menambah Kahzanah Keilmuan

Mari Belajar Islam; Pahami Islam Lebih dalam
Titik Temu Islam-Kristen
Dialog Seputar Trinitas
The Choice; Islam & Kristen
The Passion of Jesus
Hadis Arbain
Juga Buku-buku Yusuf Qardhawy di sini


Mari Belajar Komputer; Menjadi Desainer yang Tangguh
SES Pemrograman Web dengan HTML CSS dan JavaScript
Aplikasi Periklanan Menggunakan CorelDRAW X3 CD
101 Tip Trik Visual Basic6.0 Buku Kedua
101 Tip Trik ArchiCAD 9 dan 10
READ MORE - Andai Kau Tau...

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati